eXtremeINA.com

Vrsac, Serbia 17/9 – eXtremeINA.com,      Tim Nasional Paralayang Indonesia berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia Paralayang nomor Akurasi kategori beregu, yang telah dilaksanakan pada tanggal 08-18 September 2019, di Vrsac, Serbia. Kejuaraan Dunia Paralayang ini diikuti oleh 131 atlit yang berasal dari 28 negara.

Kejuaraan yang berjudul 10th FAI Paragliding Accuracy World Championship 2019, mempertandingkan nomor akurasi, dengan memperebutkan 3 medali emas, yakni perorangan putra, perorangan putri, dan beregu.

Pada Kejuaraan Dunia ini, Indonesia berhasil meraih 1 Emas, 1 Perak dan 1 Perunggu, yang dihasilkan dari peringkat pertama beregu (Indonesia-INA), peringkat kedua perorangan putra (Irvan Winarya-INA), serta peringkat ketiga peroangan putra (Jafro Megawanto-INA). Perolehan akhir untuk peringkat ketiga perorangan putra ini adalah juara kembar, dimana nilai akhir adalah sama dengan Matjaz Sluga (Slovenia).

Untuk Kejuaraan Dunia Serbia ini, Indonesia mengirimkan 6 atlit putra dan 2 atlit putri, yang terdiri dari Irvan Winarya, Jafro Megawanto, Joni Efendi, Yuda Maisa, Purnomo Alaymsyah, Hening Paradigma, Gita Rezky, dan Milawati Sirin, yang didampingi oleh Elzar Sukendro, selaku Team Manager.

“Kejuaraan ini telah menyelesaikan 9 babak dari 12 babak yang direncanakan sebelumnya. Kejuaraan ini tidak bisa dilanjutkan hingga 12 babak, karena kondisi angin yang terlalu kencang serta prakiraan cuaca yang buruk untuk esok harinya, menjadikan pemimpin pertandingan memutuskan untuk menyelesaikan lomba lebih awal 1 hari dari jadwal yang ada”, ujar Elzar Sukendro, selaku team Manager Paralayang untuk Serbia.

Kegiatan ini merupakan Kejuaraan Dunia Paralayang kategori tertinggi (Cat-1), yang dilaksanakan setiap 2 tahun 1 kali, dimana para atlit yang hadir merupakan wakil dari negaranya masing-masing (bukan mewakili individu), dan jumlahnya dibatasi (kuota) per negaranya.

“Salut dan bangga atas hasil capaian teman-teman Paralayang di Serbia, karena Kejuaraan Dunia ini merupakan Kejuaraan Dunia yang paling bergengsi (kategori satu), dimana semua atlit Paralayang terbaik dunia hadir untuk Kejuaraan ini. Pertandingan berlangsung sangat ketat, namun kita berhasil mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Serbia”, ujar Wahyu Yudha, selaku Ketua Paralayang Indonesia.

Paralayang Indonesia memang sangat diperhitungkan pada kancah Internasional. Tercatat bahwa Indonesia menduduki peringkat satu dunia pada tahun 2018 lalu (berdasarkan peringkat resmi yang dikeluarkan oleh FAI) dan juga keluar sebagai juara umum pada Asian Games 2018 Cabor Paragliding, dengan memperoleh 2 Emas, 1 Perak, dan 3 Perunggu.

Paralayang Indonesia juga pernah meraih 1 medali emas untuk perorangan Putra pada Kejuaraan Dunia Paralayang tahun 2015, yang dilaksanakan di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat. Hasil dari Serbia ini adalah mengulang keberhasilan Paralayang Indonesia di tahun 2015 lalu.

Keberhasilan tim paralayang Indonesia tidak terlepas dari adanya dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, dan juga Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

 

eXtremeINA.com

 

Pada Kejuaraan Dunia ini, Indonesia berhasil meraih 1 Emas, 1 Perak dan 1 Perunggu, yang dihasilkan dari peringkat pertama beregu (Indonesia-INA), peringkat kedua perorangan putra (Irvan Winarya-INA), serta peringkat ketiga peroangan putra (Jafro Megawanto-INA). Perolehan akhir untuk peringkat ketiga perorangan putra ini adalah juara kembar, dimana nilai akhir adalah sama dengan Matjaz Sluga (Slovenia).

...

READ MORE

eXtremeINA.com – Ambarawa (13/9) Indonesia semakin dikenal di kancah olahraga dirgantara Gantolle (Layang Gantung) dunia. Memasuki gelaran kelimanya, Kejuaraan Terbuka Lintas Alam Gantolle Piala Telomoyo 2019, 15-22 September, kembali menghadirkan Primoz Gricar. Meski sudah menjuarai Piala Telomoyo II 2015, ikutsertanya Primoz kali ini lebih menantang lagi bagi para pilot Indonesia, karena prestasinya meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia Layang Gantung XXII di Friuli Venezia Giulia, Italia, Juli lalu. Primoz asal Jerman, gagal menghentikan dominasi pilot-pilot tuanrumah, Alessandro “Alex” Ploner dan Christian Ciech, yang merebut gelar juara dan runner up. Ciech adalah pelatih regu Jawa Barat pada PON XIX 2016. Bersama rekannya, Alex, keduanya berhalangan ke Telomoyo karena mengikuti kejuaraan di Turki yang berdekatan waktunya.

“Pasti kita bisa belajar lebih banyak lagi dari dia. Dari teknik mencari termal maupun persiapan fisik terbang lintas alam dan mental mengikuti kejuaraan,” ujar Rusdianto, peraih medali emas PON XVIII Riau 2012 asal Jogjakarta pada Tagor Siagian, Humas dan Koordinator Media Piala Telomoyo V 2019 tentang kehadiran Primoz. Termal adalah kumpulan udara panas yang bergerak ke atas dan terletak di bawah awan, yang dapat membantu pilot mencapai ketinggian. Agar bisa terbang jauh sebagai syarat utama nomor lintas alam, pilot harus pandai “membaca” awan untuk mencari termal dan wajib mencapai ketinggian maksimal terlebih dulu, sebelum mencapai sasaran titik-titik dalam soal. Terkadang dalam waktu semenit, layangan bisa naik setinggi 500 meter, bila mendapatkan termal baik.

Sebanyak 42 pilot (sebutan untuk atlit olahraga dirgantara) asal 8 propinsi; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, menjadikan Piala Telomoyo V 2019 sebagai persiapan jelang kejuaraan penyisihan PON XX Papua 2020, Oktober ini. Disayangkan, empat putra daerah asal Papua, yang berkuliah di Bandung, Jawa Barat, belum siap berlomba karena masih menjalani pelatihan dasar.

Para peserta terbagi dalam dua kelas; Kelas A untuk layangan dua lapis (double surface) dan Kelas B untuk layangan satu lapis (single surface). Layangan dua lapis tentunya punya kemampuan manuver lebih lincah dan kemampuan terbang lebih cepat dibanding satu lapis. Dalam nomor Lintas Alam Terbatas, pilot diharuskan terbang secepat mungkin sesuai rute dengan titik-titik yang ditentukan dalam soal yang dibuat Direktur Lomba dan Dewan Pilot (perwakilan pilot). Tiap ronde/hari soalnya berbeda. Misalnya, dari Gunung Telomoyo ke Kampoeng Java (pabrik air mineral Java), Candi Songo, Musium Kereta Ambarawa dan Jembatan Tuntang dengan kawasan garis akhir di Desa Sraten. Mencapai jarak sekitar 50 km yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

Mengingat waktu tempuh yang lama, maka tiap hari hanya berlangsung satu ronde. Karena kondisi cuaca dan anginpun cenderung memburuk di siang hari, yakni berkabut dan angin dari arah belakang lokasi lepas landas (tailwind). Agar pilot dapat lepas landas dengan baik, maka arah angin harus dari depan (utara lokasi lepas landas/headwind). Kondisi angin yang layak terbang adalah yang berkecepatan 5-30 km/jam. Soal untuk Kelas A dan Kelas B dibuat berbeda jarak dan titik-titiknya. Olahraga alam sangat bergantung cuaca dan angin. Arah angin juga sangat menentukan kecepatan pilot terbang. Ibarat orang naik sepeda di tanjakan, bila pilot terbang melawan arah angin, akan membuat waktu tempuhnya semakin lama. Sebaliknya, bila pilot terbang mengikuti arah angin, terkadang kecepatannya bisa mencapai 120 km/jam.

Biasakan Terbang Jauh

Banyak pilot Indonesia dibuat terheran-heran dan kagum, bagaimana Primoz saat Kejuaraan Dunia lalu, bisa terbang sejauh 200 km dalam satu ronde, sementara dia seorang vegetarian, tidak makan daging. “Justru dengan hanya makan sayur-sayuran dan buah, tubuh menjadi lebih segar dan kuat dibanding pemakan daging, ikan dan telur. Juga tergantung pikiran Anda, jangan negatif dan panik. Disiplin menjaga kebugaran dan suasana hati dengan tidur cukup dan berpikiran baik, sangat berpengaruh untuk terbang dengan baik,” menurut Primoz pada Tagor Siagian, Humas dan Koordinator Media Piala Telomoyo V 2019 lewat surat elektronik, Rabu (11/9).

Mengingat jenis lomba Gantolle di tingkat dunia adalah Lintas Alam Terbatas (Race To Goal) dan Lintas Alam Bebas/Open Distance (juara ditentukan pencapaian jarak terbang garis lurus dari titik lepas landas), maka Piala Telomoyo dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para pilot nasional, agar lebih mampu bertarung di tingkat dunia. “Tidak ada pilihan lain. Anda harus mengikuti sebanyak mungkin kejuaraan lintas alam dengan jarak sesuai kejuaraan tingkat dunia, jika mau diperhitungkan sebagaai pilot lintas alam handal. Teknik terbang Anda pasti akan cepat meningkat, jika biasa terbang sejauh yang dilakukan pilot-pilot dunia. Lebih bagus lagi kalau bisa ikut banyak kejuaraan internasional, agar tahu keunggulan dan kelemahan pilot-pilot peringkat atas dunia,” jelas Primoz, 44 tahun. Kurang handalnya pilot Gantolle dan Paralayang Indonesia di nomor Lintas Alam, karena lebih sering mengikuti kejuaraan nomor Ketepatan Mendarat (Accuracy). Kalaupun ada kejuaraan lintas alam, jarak tempuh tiap ronde hanya berkisar 15 km. Sementara di lomba internasional rata-rata berjarak 72 km tiap ronde.

Jika atlit Indonesia kebanyakan menemui hambatan dana untuk berlomba di luar negeri, Primoz cukup dengan berjualan layangan dan membuka jasa perbaikan layangan Gantolle di tempatnya bermukim, Jerman. Ayah tiga anak itu merasa sangat nyaman dan antusias berlomba di Indonesia karena keramahtamahan masyarakatnya dan adanya aneka ragam jenis sayuran dan buah. Pada Piala Telomoyo II 2015, ia rasakan langsung sambutan hangat penduduk sekitar kawasan pendaratan di Kampoeng Rawa. Bak seorang rock star, ia diajak berslamaan dan berfoto bersama.

Indonesia dengan kontur alam pegunungan yang menakjubkan dengan ribuan pulaunya, menurut Primoz, sangat memungkinkan untuk terbang lintas alam dengan jauh. Hanya butuh niat dan kegigihan mencari, mengembangkan dan merawat semua kawasan mempesona itu. Bukan tidak mungkin, suatu saat rekor dunia terbang lintas alam Gantolle bisa dibuat di Indonesia. Sebagai perbandingan, jika rekor nasional Lintas Alam Bebas Gantolle yang dicatat pilot senior Roy Sadewo (DKI Jaya) pada 1995 dari Wonogiri ke Pati (Jawa Tengah) adalah 92 km, (belum terpecahkan hingga kini), maka rekor dunia yang dibuat di Zapata, Texas, Amerika Serikat pada Juli 2012 oleh Johnny Durand (Australia) adalah sejauh 761 km, ia terbang selama 11 jam!

 

Kalender Resmi FAI

         Gunung Telomoyo dengan ketinggian 1940 m ASL (Di atas Permukaan Laut), sudah dijadikan kawasan peluncuran olahraga Gantolle sejak 1999 dan digunakan untuk kejuaraan pada 2002. Kejuaraan Nasional pertama kalinya digelar di sana pada 2004. Piala Telomoyo yang digelar sejak 2014, kerjasama Perkumpulan Gantolle DKI Jaya dengan Gantolle Jawa Tengah, sudah terdaftar sebagai kegiatan tetap pada FAI (World Air Sports Federation), induk olahraga dirgantara dunia dengan status kejuaraan Category 2. Artinya, nilai hasil pencapaian pilot dapat mempengaruhi peringkat dunianya yang diumumkan tiap awal bulan oleh FAI di www.fai.org/ranking.

Primoz memuji Telomoyo sebagai tempat sangat menantang untuk terbang. “Kelihatannya mudah ditaklukkan, tapi kalau Anda sudah terbang, tak boleh sedetikpun lengah,” ucapnya. Sedangkan pilot Australia, Grant Heaney, Juara Kelas A Piala Telomoyo I 2014, menyukai tantangan alam Telomoyo. “Di daerah asal saya, tidak ada gunung. Jadi selalu ada pengalaman baru dan seru bagi saya setiap terbang di Telomoyo,” ujarnya. Pada 2015, Grant sempat tersedot awan hujan. Khawatir terkena petir, ia segera berusaha melepaskan diri meski susah payah. Saat mendarat, wajahnya pucat. Cukup menggambarkan betapa mengerikannya pengalaman dia barusan.

Peringkat ke-43 dunia Hiroshi Suzuki, asal Jepang, sangat menikmati terbang di Indonesia. “Alamnya sangat menantang, nikmat sekali terbang di atas sawah dan mendarat juga di sawah!” serunya. Karena rajin berbagi pengalaman terbang di Indonesia lewat media sosial, rekan-rekannya sesama pilot Jepang lainnya selalu mengikuti Piala Telomoyo. Hiroshi, juara Kelas A Piala Telomoyo IV 2018 kali ini datang bersama tiga pilot putra lainnya, diantaranya Reona Takemoto, pilot didikannya. Karena faktor kesulitan yang lebih tinggi untuk terbang di Telomoyo dibanding di negaranya, Hiroshi mengharuskan muridnya terbang minimal 100 kali di Jepang sebelum ikut Piala Telomoyo. Selain mencari pengalaman terbang di berbagai kawasan di Indonesia, wisata kuliner, kesenian dan kebudayaan juga menjadi tujuan para peserta asing. Selesai Piala Telomoyo sebelumnya, para pilot Jepang pernah menjajal terbang di Bukit Batu Dua, Sumedang dan Majalengka, Jawa Barat, sementara para pilot Korea Selatan berwisata ke Jogjakarta.

 

Berkabut

Seperti cuaca pada latihan resmi Minggu (15/9), lomba Ronde I pada Senin (16/9) tertunda hingga pukul 12.54 saat pilot urutan terbang pertama Andre HK (DKI Jaya) takeoff, akibat kabut menutup lokasi lepas landas dari pagi hingga siang. Kelas A mendapat tugas sejauh 50 km, dengan titik-titik diantaranya Bukit Gajah, kawasan Salatiga, Desa Bawen dan Desa Jetis, dan mendarat di radius Desa Sraten. Sedangkan Kelas B hingga 30 km. Semua pilot berhasil mendarat dengan selamat. Namun hingga Senin malam, hasil Ronde I belum diumumkan.

Karena ramalan cuaca menyebut kabut akan datang lagi pukul 14.00 WIB, maka para pilot berusaha takeoff secepat mungkin, mengingat beberapa pilot bisa memakan waktu lebih dari perkiraan satu menit hingga loncat, akibat angin yang tiba-tiba melemah atau berubah arah. Jumlah penonton yang tidak seramai hari sebelumnya, membuat para pilot lebih mudah menyiapkan layangan dan menggeser layangannya ke landas pacu (launching ramp), berupa papan kayu sepanjang 2 meter mendatar dan 3 meter menukik tajam.

Kawasan Wisata Olahraga Dirgantara

Untuk mempercepat pergerakan para peserta Piala Telomoyo mencapai lokasi lepas landas (takeoff) di Gunung Telomoyo, sudah diperbaiki infrastruktur jalan dengan dibeton dan sebagian diaspal. Jika tahun lalu butuh 50 menit hingga ke Puncak, sekarang cukup 20 menit. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang membuka Piala Telomoyo IV tahun lalu, sangat antusias menjadikan Telomoyo sebagai kawasan wisata olahraga dirgantara (air sport tourism), Sebelumnya kawasan Gunung Mas, Puncak (Jawa Barat), Batu, Malang (Jawa Timur) dan Bukit Timbis (Nusa Dua, Bali) sudah dikenal dunia sebagai tempat baik untuk terbang tandem (dibonceng) Paralayang.

Kementerian Pariwisata mencatat, 53% wisatawan dunia adalah usia milenial, 17-25 tahun. Selain wisata kuliner dan kesenian, tujuan mereka adalah wisata olahraga petualangan/alam. Jumlah wisatawan olahraga petualangan di Indonesia, baik lokal maupun mancanegara, terus meningkat tiap tahun dengan kedatangan sekitar 1,4 juta orang. Jenis olahraga petualangan yang paling digemari adalah selancar, selam, snorkling, arung jeram, paralayang, mendaki gunung dan penelusuran gua.

Guna mendukung rencana kerja Gubernur Ganjar, Panitia Pelaksana Piala Telomoyo V 2019 akan menyelenggarakan seminar Wisata Olahraga Dirgantara di Hotel Griya Persada, Bandungan Ungaran pada Kamis (19/9). Dengan pembicara perwakilan Kementerian Pariwisata, FAI (Federasi Aeronautika Internasional), induk olahraga dirgantara dunia, Ersy Firman, penggagas Piala Telomoyo dan (Kapt.) Joy Roa, promotor festival balon udara di Filipina.

Selain peragaan terbang pesawat Paramotor (Paralayang Bermotor), kawasan pendaratan di Desa Sraten akan diramaikan juga panggung hiburan dan bazar UKM yang dikelola Kabupaten Semarang..

Text & Photos : TAGOR SIAGIAN

Sebanyak 42 pilot (sebutan untuk atlit olahraga dirgantara) asal 8 propinsi; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, menjadikan Piala Telomoyo V 2019 sebagai persiapan jelang kejuaraan penyisihan PON XX Papua 2020, Oktober ini

...

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com    Pemerintah Daerah Kabupaten Batang melakukan gebrakan yang positif dengan menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah kejuaraan Paralayang tahunan bertaraf Internasional yakni Paragliding Trip of Indonesia [TRoI], yang akan tersaji pada tanggal 25 hingga 28 April 2019 di Bukit Sikupang, Desa Kedaung, Kecamatan Banyuputih Batang.

Sejatinya akan banyak sekali manfaat yang didapat oleh Kota Batang saat menjadi tuan rumah TRoI 2019 ini, antara lain dapat menjadikan ajang promosi wisata yang ada di Batang kepada seluruh peserta TRoI baik dari lokal maupun Internasional, menjadi lahan pemasukan bagi masyarakat sekitar, menjadikan Kota Batang lebih dikenal, membantu perkembangan olahraga Paralayang di Indonesia dari segi lokasi, mendorong minat anak-anak muda Batang untuk mulai menggeluti olahraga Paralayang, dan tentunya masih banyak hal positif lainnya yang akan didapat.

Lokasi terbang Paralayang yang ada di Batang ini sudah ada sejak tahun 2018 yang lalu, dan pada kesempatannya Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga [DISPORA] Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso mengatakan, “TRoI akan menjadi acara paralayang terbesar yang pernah ada di Kabupaten Batang. Antusiasme para peserta yang akan mengikuti kejuaraan paragliding pada TRoI ini cukup luar biasa, bahkan membludak. Sehingga, kami terpakasa menutup pendaftaran peserta sejak tanggal 2 April kemarin di angka 203.”.

“TRoI ini sekaligus menjadi agenda kemeriahan HUT ke-53 Kabupaten Batang. Oleh karena itu selain menghadirkan Kejuaraan kami juga persilahkan bagi masyarakat yang ingin mencoba menikmati paralayang di Bukit Sikuping dengan fun games dan tandem,” tambahnya.

Di lain kesempatan Bupati Batang juga mengatakan hal positif, “Acara ini saya kira sebagai ajang kejuaraan yang sangat bagus, untuk bisa sekaligus perkenalkan ke seluruh masyarakat Indonesia bahwa Kabupaten Batang juga memiliki berbagai potensi alamnya yang indah, yakni Bukit Si Kuping. Kedepannya kegiatan kejuaraan seperti itu akan dijadikan sebagai agenda tahunan tingkat Nasional. Langkah tersebut juga untuk mendukung tahun kunjungan wisata 2022, dengan mengembangkan tempat latihan paralayang dan membuka potensi destinasi wisata baru yang memiliki multiplayer efek ekonominya.”

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : TRoI 2019 / eXtremeINA.com

Edited by      : Ihsan Rizaldi Raz

Seri perdana TRoI 2019 akan segera dipertandingkan bertempatkan di kota Batang, Jawa Tengah.

READ MORE

eXtremeINA.com       Bungee Jumping adalah salah satu olahraga ekstrem yang saat ini mulai banyak digemari anak – anak muda Indonesia. Terbukti semakin banyaknya komunitas Bungee Jumping dan spot-spot untuk melakukan olahraga ekstrem ini di Indonesia. Selain memacu adrenalin bagi para pelakunya, Bungee Jumping ini cukup mudah untuk dilakukan. Karena untuk melakukan olahraga ekstrem ini, kita tidak perlu melakukan tehnik khusus, dan pada dasarnya para pelakunya hanya cukup meloncat pada ketinggian tertentu.

Bungee Jumping, Bakar Adrenalin Dengan Melompat_feature (1)

Jika kalian tertarik untuk melakukan olahraga ekstrim ini, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum melakukannya, dan tentunya dapat terhindar dari kecelakaan. Yang pertama adalah, jika anda ingin melakukan olahraga ini kalian tidak boleh takut dengan ketinggian. Itu adalah syarat terpenting dalam Bungee Jumping, mengingat olahraga ini dilakukan dari ketinggian yang sudah ditentukan.

Bungee Jumping, Bakar Adrenalin Dengan Melompat_feature (3)

Yang kedua adalah, para pelaku tidak boleh menderita penyakit Asma, alasannya adalah melompat dengan ketinggian tertentu dapat memicu adrenalin anda naik dan jantung anda berdenyut kencang. Dan dalam situasi tertentu ini bisa mengakibatkan Asma kambuh dan sulit untuk bernafas.

Bungee Jumping, Bakar Adrenalin Dengan Melompat_feature (2)

Yang ketiga adalah, pelaku tidak boleh menderita penyakit jantung, Bagi para pelaku persyaratan ini cukup sangat masuk akal. Mengingat olahraga ini cukup ekstrim dan dapat memicu adrenalin anda akan naik, sehingga jantung anda akan terpompa cukup cepat. Oleh sebab itu bagi anda para penderita Jantung, harus memikirkannya lagi jika ingin melakukan olahraga Bungee jumping ini.

Bungee Jumping, Bakar Adrenalin Dengan Melompat_feature (4)

Yang keempat adalah, para pelaku terutama bagi pemula dilarang keras untuk mengabaikan petunjuk dari instruktur. Walaupun olahraga ini cukup mudah dilakukan, anda harus ikuti peraturan yang ada bagi para pemula. Menggunakan sagety gear dan mengikuti perinyah dari instruktur dapat membuat anda lebih nyaman dan aman untuk meakukan olahraga ekstrim ini.

#air #bungeejumping #feature #extremeina #extremesports #extremesportsindonesia #indonesia #jumping

Text            : Bambang Vidiatmoko

Photos       : Berbagai Sumber

Bungee Jumping adalah salah satu olahraga ekstrem yang saat ini mulai banyak digemari anak-anak muda Indonesia.

READ MORE

eXtremeINA.com    Sky surfing adalah jenis skydiving di mana penerjun payung yang memakai papan melekat pada kaki nya dan melakukan berselancar gaya aerobatik selama terjun bebas. Papan yang digunakan umumnya lebih kecil dari papan selancar yang sebenarnya, dan terlihat lebih seperti snowboards atau skateboard besar. Lampiran ke kaki biasanya dibuat dilepas, sehingga jika penerjun payung yang kehilangan kendali atau memiliki kesulitan membuka parasut mereka, dewan dapat disingkirkan.

ilustrasi-skysurfing_feature (5)

Skysurfing adalah keterampilan yang membutuhkan latihan yang cukup. Teknik skysurfing sederhana adalah untuk berdiri tegak di papan selama terjun bebas, dan kemiringan hidung papan bawah untuk menghasilkan gerakan maju. Namun bahkan teknik dasar ini adalah tindakan penyeimbangan yang berpengalaman, menemukan skydivers sulit untuk belajar. Drag tambahan papan cenderung mengganggu keseimbangan dan membuat skydiver flip atas.

Jumper juga harus belajar untuk mengontrol papan dan posisi tubuh mereka sehingga untuk membuka parasut dalam konfigurasi yang stabil. Aerobatik yang lebih canggih seperti loop, roll dan helikopter berputar, lebih sulit dan masih ditangani setelah dasar-dasar yang telah dikuasai.Karena kemungkinan menjatuhkan papan, tidak setiap klub terjun payung izin skysurfing, dan hanya sebagian kecil skydivers telah berusaha ini spesialisasi baru dalam olahraga.

ilustrasi-skysurfing_feature (4)

Ketika skysurfer adalah difilmkan oleh seorang penerjun payung jatuh bersama mereka, film yang dihasilkan memberikan kesan bahwa skysurfer yang naik di udara dengan cara yang sama naik surfer pada gelombang. Gerakan ke bawah tidak terlalu jelas dan ini menciptakan ilusi bahwa skysurfer adalah meluncur pada arus udara seperti sailplane atau menggantung glider. Bahkan skysurfer selalu jatuh pada kecepatan tinggi sebanding dengan setiap penerjun freefalling lainnya.

Disiplin kompetitif skysurfing adalah olahraga tim yang terdiri dari skysurfer dan selebaran kamera dengan kamera video. Surf Sky diciptakan oleh dua skydivers Prancis, Dominique Jacquet dan Jean-Pascal Oron pada 1986 tetapi menjadi populer dan mendapat pengakuan selama tahun 1990-an berkat upaya dari beberapa eksponen pertama untuk menguasai aerobatics lebih kompleks, seperti Patrick akhir de Gayardon dan Jerry akhir Loftis. Munculnya skysurfing bertepatan dengan usia baru lainnya disiplin dalam skydiving, seperti freestyle dan freeflying.

ilustrasi-skysurfing_feature (3)

Skydiving Freestyle adalah gaya, balet sebagian besar individu yang berusaha untuk memperpanjang olahraga di luar posisi perut-ke-bumi datar tradisional yang digunakan oleh kebanyakan skydivers yang membuat formasi dengan tubuh mereka. Freeflying juga merupakan bentuk skydiving menggunakan berbagai posisi tubuh, seperti kepala di bawah atau kaki-ke-bumi, sementara masih membangun formasi dengan orang lain.

Evolusi ini dalam terjun payung telah mengambil olahraga jauh dari citra tradisional aksi berani mati. Skysurfing mencapai puncaknya pada popularitas di akhir 1990-an. Skysurfers yang ditampilkan dalam iklan televisi prime time untuk merek-merek besar seperti Pepsi, AT&T dan lainnya.

ilustrasi-skysurfing_feature (2)

Skysurfing tim yang kompetitif adalah fitur sebagai bagian dari ESPN X Game 1995-2000. Pada tahun 1996 dan 1997, SSI Pro Tour dipentaskan delapan X-Ujian peristiwa kualifikasi di Amerika Utara dan Eropa. Selama periode enam tahun, pro skysurf tim menerima total 392.000 USD dalam kemenangan kas dan disiplin mengumpulkan lebih dari 100 jam + paparan TV global tanpa insiden.

Setelah ESPN memutuskan untuk tidak memperbaharui olahraga untuk musim ketujuh, skysurfing telah menjadi relatif jarang di kalangan komunitas skydiving. Alasan penurunan ini termasuk kenaikan popularitas freeflying dan wingsuit terbang, bahaya yang berhubungan dengan terbang dan melepaskan papan, dan jumlah berkurang dari skysurfers berpengalaman untuk melatih pilot baru.

#air #extremeina #extremesports #extremesportsindonesia #feature #indonesia #sky #skydiving #skysurfing

Text          : Bambang Vidiatmoko

Photos     : Berbagai Sumber

Sky surfing adalah jenis skydiving di mana penerjun payung yang memakai papan melekat pada kaki nya dan melakukan berselancar gaya aerobatik selama terjun bebas.

READ MORE

eXtremeINA.com              Olahraga ekstrem memang tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, dan yang harus menggelutinya adalah orang-orang yang terlatih di bidangnya. Namun jika seorang pemula ingin merasakan seberapa seru dan tertantangnya bermain olahraga ekstrem maka dia harus diawasi oleh orang yang sudah profesional.

Pacu Adrenaline, Berikut Manfaat Olahraga Ekstrem_feature (1)

Khusus di Indonesia, perkembangan olahraga ekstrem terbilang cukup pesat dan sudah banyak kategori seperti BMX, Skateboard, Downhill, Surfing, Panjat Tebing, Aggressive Inline Skate, Slackline, Offroad, Motocross, Wakeboarding, Paralayang, dan masih banyak yang lainnya. Namun sejatinya perkembangan ataupun kemajuan olahraga ekstrem tersebut sifatnya belum merata, dan yang membuktikan bahwa kategori olahraga ekstrem tertentu adalah banyaknya komunitas, banyaknya kejuaraan olahraga ekstrem tertentu diberbagai daerah, memiliki federasi atau assosiasi, pecintanya datang dari berbagai kalangan, dan tentunya masih banyak faktor lainnya.

Pacu Adrenaline, Berikut Manfaat Olahraga Ekstrem_feature (4)

Namun tahukan kalian seberapa banyak manfaat yang dihasilkan jika bermain olahraga ekstrem. Pada dasarnya semua olahraga dapat memberikan dampat positif bagi kesehatan tubuh, namun khusus olahraga ekstrem memiliki karakteristiknya sendiri. Karakteristik yang dimaksud adalah, olahraga ekstrem ini dapat memacu adrenaline, melatih mental, menghilangkan phobia tertentu, dan masih banyak manfaat lainnya.

Pacu Adrenaline, Berikut Manfaat Olahraga Ekstrem_feature (2)

Olahraga ekstrem ini identik dengan anak-anak muda, namun pada faktanya olahraga ekstrem banyak dilakukan oleh mereka yang memiliki usia 20 tahun hingga 40 tahun. Namun usia ini dapat menjadi patokan jenis olahraga ekstrem apa yang dilakukan. Bagi seorang pemula yang ingin merasakan olahraga ekstrem tertentu ada kait-kiat yang harus diperhatikan, yaitu pilih waktu yang tepat untuk melakukan olahraga ekstrem yang kalian geluti, hindari bermain olahraga ekstrem disaat kondisi badan sedang tidak fit, dan pertimbangkan resiko yang akan terjadi.

Pacu Adrenaline, Berikut Manfaat Olahraga Ekstrem_feature (3)

#eXtremeINA #extremesport #extremesportsindonesia #feature #Indonesia

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : Berbagai Sumber

Olahraga ekstrem memang tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, dan yang harus menggelutinya adalah orang-orang yang terlatih di bidangnya.

READ MORE

YOGYAKARTA – eXtremeINA.com      Kejuaraan KASAU Cup 2019 yang tersaji di Bukit Watu Gupit, Pantai Parangtritis Yogyakarta telah sukses digelar pada akhir pekan lalu tanggal 1-3 Maret 2019. Pada ajang tahunan ini pihak penyelenggara telah mempertandingkan beberapa cabang olahraga Dirgantara yang salah satunya adalah Gantolle.

KASAU Cup adalah sebuah kejuaraan olahraga dirgantara yang didukung penuh oleh Kepala Staff TNI AU yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia [FASI), induk organisasi olahraga Dirgantara di Tanah Air. Maksud dan tujuan diadakannya KASAU Cup ini adalah untuk membina dan pengembangan olahraga Dirgantara di Indonesia. Ajang ini pun juga sangat bermanfaat bagi peningkatan prestasi para pilotnya. Kejuaraan KASAU Cup ini sudah berlangsung rutin di setiap tahunnya, dan tahun 2019 ini menjadi pagelaran yang ketiga.

Khusus pada cabang olahraga Gantolle, Kejuaraan KASAU Cup 2019 berhasil diikuti oleh 58 pilot dari 10 provinsi, yang diantaranya Sumatera Barat dengan 11 pilot, DKI Jakarta dengan 6 pilot, Banten dengan 4 pilot, DIY dengan 2 pilot, Jawa Tengah dengan 7 pilot, Jawa Timur dengan 8 pilot, Sulawesi Selatan dengan 2 pilot, Kalimantan Selatan dengan 1 pilot, Kalimantan Timur dengan 4 pilot, dan yang paling banyak mengirimkan pilotnya adalah Jawa Barat dengan 13 pilot.

Sejatinya ada kejutan yang terjadi di KASAU Cup 2019 ini, yaitu hadirnya 11 penerbang atau pilot baru yang ikut berpartisipasi. Alasan inilah yang membuat pihak penyelenggara memasukan nomor Junior, dengan memasukan nomor tersebut maka diharapkan anak-anak muda mulai menggeluti olahraga Gantolle.

Dalam kesempatannya Eris Budi Utomo selaku Ketua pertandingan yang merangkap Safety Officer atau keamanan penerbangan mengatakan, “Kami cukup senang dengan banyaknya penerbang-penerbang baru yang muncul di KASAU Cup 2019 ini. Oleh karena itulah kami memasukan nomor Yunior agar mereka membuktikan dirinya mampu berprestasi walaupun baru terjun di olahraga Gantolle. Kami harapkan ajang semacam ini terus bergulir di setiap tahunnya untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga Dirgantara khususnya Gantolle.”

Saat hari pertama dan hari kedua berlangsung, perlombaan berjalan sangat lancar dan semua babak dapat dipertandingkan. Namun saat masuk ke hari terakhir perlombaan tepatnya di tanggal 3 Maret 2019, hujan mengguyur kawasan Pantai Parangtritis akibat cuaca buruk tersebut pihak panitia hanya mampu menggelar 3 babak saja dari rencana 5 babak yang seharunya dipertandingkan. Namun dengan 3 babak ini sudah dinyatakan validitasnya tercapai 100% dan valid, dengan begitu pemenangnya sudah bisa ditentukan.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. Chalid [pnb Gantolle JKT]

Hadirnya 11 penerbang atau pilot baru yang ikut berpartisipasi.

READ MORE

YOGYAKARTA – eXtremeINA.com      Kejuaraan Paralayang bertajuk KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin tanggal 1-3 Maret 2019 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Sejatinya kejuaraan Paralayang ini adalah agenda tahunan yang sekaligus menjadi kalender pertama Paralayang Indonesia di tahun 2019. Untuk mensukseskan kejuaraan ini Pengurus Paralayang provinsi DIY selaku pihak penyelenggara didukung penuh oleh TNI-AU.

Kejuaraan Paralayang bertajuk KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin tanggal 1-3 Maret 2019 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Sejatinya kejuaraan Paralayang ini adalah agenda tahunan yang sekaligus menjadi kalender pertama Paralayang Indonesia di tahun 2019.

Diikuti oleh 128 peserta dari 12 Provinsi, Kejuaraan Paralayang KASAU Cup 2019 hanya mempertandingkan nomor lomba Ketepatan Mendarat [KTM] atau akurasi, untuk kategorinya adalah putra, putri, dan beregu. Saat memasuki hari ketiga yang sekaligus menjadi hari terakhir perlombaan, hujan sempat mengguyur Kawasan Parangtritis dan benar saja perlombaan hanya mampu diselesaikan dua babak dari enam babak yang direncanakan.

Kejuaraan Paralayang bertajuk KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin tanggal 1-3 Maret 2019 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Sejatinya kejuaraan Paralayang ini adalah agenda tahunan yang sekaligus menjadi kalender pertama Paralayang Indonesia di tahun 2019.

Jalannya perlombaan benar-benar sangat seru dan menegangkan, terlebih pada nomor lomba Ketepatan Mendarat untuk kategori putri. Akibat perolehan nilai yang sama, terjadi Head to Head perebutan peringkat kedua antara Ade Oktavia dari provinsi Jawa Barat dengan Silviana Bebby dari Provinsi Jawa Tengah. Pertarungan disetiap kategorinya seakan menjadi hiburan berkelas bagi para pengunjung.

Kejuaraan Paralayang bertajuk KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin tanggal 1-3 Maret 2019 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Sejatinya kejuaraan Paralayang ini adalah agenda tahunan yang sekaligus menjadi kalender pertama Paralayang Indonesia di tahun 2019.

Spot terbang Paralayang di Parangtritis adalah satu-satunya lokasi di Indonesia yang bisa digunakan untuk seluruh olahraga Dirgantara mulai dari Paralayang, Gantolle, Paramotor, Terjun Payung, Aeromodeling, hingga pesawat kecil. Parangtritis memiliki bukit dan garis pantai yang Panjang serta memiliki airstrip untuk digunakan pesawat bermesin. Hadirnya kejuaraan KASAU Cup 2019 ini diharapkan mampu mendongkrak nilai wisata dikawasan Yogyakarta khususnya di Pantai Parangtritis.

Kejuaraan Paralayang bertajuk KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin tanggal 1-3 Maret 2019 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Sejatinya kejuaraan Paralayang ini adalah agenda tahunan yang sekaligus menjadi kalender pertama Paralayang Indonesia di tahun 2019.

Dengan meningkatnya nilai wisata yang ada di Parangtritis ini maka akan sangat banyak manfaat yang didapat, seperti memperlihatkan spot Parangtritis sebagai salah satu destinasi bermain Paralayang, menikmati keindahan pantai dari atas bukit, menikmati sunset di pantai Parangtritis, dan tentunya masih banyak wisata lain yang dapat dinikmati. KASAU Cup ini adalah sebuah kejuaraan Dirgantara yang rutin setiap tahun diselenggrakan dan pada tahun 2019 ini adalah tahun ketiganya.

Berikut adalah hasil KASAU Cup 2019, di Pantai Parangtritis, Yogyakarta:

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : Nyoxie Rm / Paralayang Indonesia

Kejuaraan KASAU Cup 2019 telah tersaji pada akhir pekan kemarin di Pantai Parangtritis Yogyakarta.

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com     Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi-event terbesar di dunia bertajuk Olimpiade 2032. Hal ini pun diperkuat dengan adanya surat resmi dari Presiden Indonesia Joko Widodo yang sudah diterima oleh Presiden International Olympic Committee Thomas Bach di Sekretariat IOC, Lausanne, Swiss.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi event terbesar didunia bertajuk Olimpiade 2032.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo sendiri pernah menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade kepada Thomas Bach saat berkunjung ke Indonesia pada tahun 2018 yang lalu. Lalu setelahnya Presiden Joko Widodo menyampaikan surat tertulis yang langsung diterima oleh Thomas, dan mendapatkan tanggapan positif. Apalagi Thomas sendiri telah melihat kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi event terbesar didunia bertajuk Olimpiade 2032.

Sejatinya jika Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032, banyak kalangan yang optimis bahwa Indonesia akan sukses menggelarnya. Pengakuan juga datang dari Christophe Dubi selaku Executive Director IOC mengakui kapabilitas Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018, “Suksesnya menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 akan menjadi pondasi yang kuat untuk Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Semoga akan terealisasi dengan baik,” perkataan Duni saat bertemu dengan Dubes RI di Bern Muliaman D. Hadad.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi event terbesar didunia bertajuk Olimpiade 2032.

Tanggapan juga datang dari Ketua Umum Komite Olimpiade [KOI] Erick Thohir yang menyampaikan, “Dengan persiapan yang hanya dua tahun, nyatanya Indonesia mampu menggelar Asian Games dan Asian Para Games 2018 dengan sangat sukses. Untuk persiapan Olimpiade 2032, Indonesia harus sering menggelar single event bertaraf International. Kami berharap semua Federasi Olahraga di Indonesia juga sering menggelar kejuaraan bertaraf International, hal ini diperuntukan sebagai ajang promosi untuk tuan rumah Olimpiade 2032.”

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi event terbesar didunia bertajuk Olimpiade 2032.

Kalau benar nantinya Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 maka ini akan menjadi pengakuan dari seluruh dunia bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki kapabilitas. Selain Indonesia ada gabungan Korea Selatan dan Korea Utara yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade. Proses pemilihan tuan rumah Olimpiade 2032 akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada 2024 mendatang.

Setelah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018, kini Indonesia resmi mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah ajang multi event terbesar didunia bertajuk Olimpiade 2032.

Jika Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 harapan besarnya adalah dimasukkan cabang olahraga ekstrem dalam ajang empat tahunan tersebut. Sejatinya olahraga ekstrem sendiri telah dipertandingkan dalam ajang Asian Games 2018, seperti cabor Jetski, Paralayang, Panjat Tebing, BMX Race. Downhill, dan Skateboard. Dalam gelaran Olimpiade 2032 diharapkan semakin banyak olahraga extrem yang masuk kedalamnya, cotohnya Surfng yang pada ajang Asian Games 2018 gagal dipertandingkan.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : Berbagai Sumber

Indonesia mengambil langkah besar, dengan calonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032.

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com     Kejuaraan Pekan Olahraga Nasional [PON ] XX 2020 akan tersaji di Papua, dan pastinya seluruh provinsi dari masing-masing cabang olahraga tengah mempersiapkan tim yang tangguh dan siap meraih banyak prestasi. Salah satunya adalah tim dari Provinsi DKI Jakarta untuk cabang olahraga gantolle.

Target Tim Gantole DKI Jakarta di PON Papua 2020_news (1)

Untuk PON XX 2020 Papua, Tim Gantolle DKI Jakarta memang telah mempersiapkan diri dengan intens berlatih. Namun dalam dua bulan terakhir latihan sedikit terganggu akibat cuaca yang terus hujan.

Target Tim Gantole DKI Jakarta di PON Papua 2020_news (2)

“Untuk mengikuti PON XX 2020 Papua, Tim Gantolle DKI Jakarta tengah menyiapkan 9 atlet, namun yang diprioritaskan 6 atlet, Mereka adalah Andre Kastrowisastro, Syamsul Falah, Fauzi Lukandi, Roy Sadewo, Ersy Firman, dan Fauzan. Untuk mempersiapkan diri kami terus mengadakan latihan secara intens, pada minggu lalu kami berlatih di bukit Panten Majalengka, dan pada bulan Desember 2018 lalu salah satu atlet DKI Jakarta Roy Sadewo mengikuti kejuaraan di Australia yang sekaligus menjadi bahan try-out untuk dirinya,” Atlet Gantolle Tim DKI Jakarta, Ersy Firman.

Target Tim Gantole DKI Jakarta di PON Papua 2020_news (4)

Dalam ajang olahraga 4 tahunan ini, Tim Gantolle DKI Jakarta menargetkan dua medali emas dari masing-masing kelas yang diperlombakan, Kelas A [High Performance Gliders] dan kelas B [Intermediate Gliders], untuk mata lombanya adalah terbang lintas alam atau Cross Country dan Ketepatan Mendarat [Accuracy].

Target Tim Gantole DKI Jakarta di PON Papua 2020_news (5)

Cabang olahraga gantolle di ajang PON XX 2020 Papua akan menggunakan sistem Towing, namun masih belum ditentukan akan menggunakan Ground Towing atau Aero Towing. Dengan kata lain pesawat gantolle tidak akan menggunakan bukit atau gunung untuk penerbangannya.

Target Tim Gantole DKI Jakarta di PON Papua 2020_news (3)

Dalam sistem seperti ini Ersy Firman menjelaskan, “Tim Gantolle DKI Jakarta tidak ada masalah dan siap berjuang untuk target yang sudah ditentukan. Melihat peta kekuatan saat ini, bisa dibilang cukup merata dan kemungkinan Provinsi yang akan menjadi lawan berat Tim DKI Jakarta adalah Jawa Barat, Sumatra  Barat, Jawa Timur, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur. Namun kami juga tetap mewaspadai kekuatan tim Gantolle dari provinsi lainnya. Akan tetapi tim Gantolle DKI Jakarta cukup optimis, mengingat hasil lomba terakhir di Gunung Telemoyo 2018, atlet DKI Jakarta Andre Kastrowisastro dan Fauzi Lukandi menjadi yang terbaik di Kelas A dan B.”

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. Tim Gantolle DKI Jakarta

 

#air #extremeina #extremeinadotcom #extremesports #extremesportsindonesia #indonesia #DKIJakarta #gantolle #jakarta #handgliding #papua #PONXX2020

Secara intens lakukan persiapan, Tim Gantolle DKI Jakarta siapkan target emas di PON XX 2020.

READ MORE
<