eXtremeINA.com

News

Primoz Gricar, Juara Tiga Dunia Datang Lagi

eXtremeINA.com – Ambarawa (13/9) Indonesia semakin dikenal di kancah olahraga dirgantara Gantolle (Layang Gantung) dunia. Memasuki gelaran kelimanya, Kejuaraan Terbuka Lintas Alam Gantolle Piala Telomoyo 2019, 15-22 September, kembali menghadirkan Primoz Gricar. Meski sudah menjuarai Piala Telomoyo II 2015, ikutsertanya Primoz kali ini lebih menantang lagi bagi para pilot Indonesia, karena prestasinya meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia Layang Gantung XXII di Friuli Venezia Giulia, Italia, Juli lalu. Primoz asal Jerman, gagal menghentikan dominasi pilot-pilot tuanrumah, Alessandro “Alex” Ploner dan Christian Ciech, yang merebut gelar juara dan runner up. Ciech adalah pelatih regu Jawa Barat pada PON XIX 2016. Bersama rekannya, Alex, keduanya berhalangan ke Telomoyo karena mengikuti kejuaraan di Turki yang berdekatan waktunya.

“Pasti kita bisa belajar lebih banyak lagi dari dia. Dari teknik mencari termal maupun persiapan fisik terbang lintas alam dan mental mengikuti kejuaraan,” ujar Rusdianto, peraih medali emas PON XVIII Riau 2012 asal Jogjakarta pada Tagor Siagian, Humas dan Koordinator Media Piala Telomoyo V 2019 tentang kehadiran Primoz. Termal adalah kumpulan udara panas yang bergerak ke atas dan terletak di bawah awan, yang dapat membantu pilot mencapai ketinggian. Agar bisa terbang jauh sebagai syarat utama nomor lintas alam, pilot harus pandai “membaca” awan untuk mencari termal dan wajib mencapai ketinggian maksimal terlebih dulu, sebelum mencapai sasaran titik-titik dalam soal. Terkadang dalam waktu semenit, layangan bisa naik setinggi 500 meter, bila mendapatkan termal baik.

Sebanyak 42 pilot (sebutan untuk atlit olahraga dirgantara) asal 8 propinsi; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, menjadikan Piala Telomoyo V 2019 sebagai persiapan jelang kejuaraan penyisihan PON XX Papua 2020, Oktober ini. Disayangkan, empat putra daerah asal Papua, yang berkuliah di Bandung, Jawa Barat, belum siap berlomba karena masih menjalani pelatihan dasar.

Para peserta terbagi dalam dua kelas; Kelas A untuk layangan dua lapis (double surface) dan Kelas B untuk layangan satu lapis (single surface). Layangan dua lapis tentunya punya kemampuan manuver lebih lincah dan kemampuan terbang lebih cepat dibanding satu lapis. Dalam nomor Lintas Alam Terbatas, pilot diharuskan terbang secepat mungkin sesuai rute dengan titik-titik yang ditentukan dalam soal yang dibuat Direktur Lomba dan Dewan Pilot (perwakilan pilot). Tiap ronde/hari soalnya berbeda. Misalnya, dari Gunung Telomoyo ke Kampoeng Java (pabrik air mineral Java), Candi Songo, Musium Kereta Ambarawa dan Jembatan Tuntang dengan kawasan garis akhir di Desa Sraten. Mencapai jarak sekitar 50 km yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

Mengingat waktu tempuh yang lama, maka tiap hari hanya berlangsung satu ronde. Karena kondisi cuaca dan anginpun cenderung memburuk di siang hari, yakni berkabut dan angin dari arah belakang lokasi lepas landas (tailwind). Agar pilot dapat lepas landas dengan baik, maka arah angin harus dari depan (utara lokasi lepas landas/headwind). Kondisi angin yang layak terbang adalah yang berkecepatan 5-30 km/jam. Soal untuk Kelas A dan Kelas B dibuat berbeda jarak dan titik-titiknya. Olahraga alam sangat bergantung cuaca dan angin. Arah angin juga sangat menentukan kecepatan pilot terbang. Ibarat orang naik sepeda di tanjakan, bila pilot terbang melawan arah angin, akan membuat waktu tempuhnya semakin lama. Sebaliknya, bila pilot terbang mengikuti arah angin, terkadang kecepatannya bisa mencapai 120 km/jam.

Biasakan Terbang Jauh

Banyak pilot Indonesia dibuat terheran-heran dan kagum, bagaimana Primoz saat Kejuaraan Dunia lalu, bisa terbang sejauh 200 km dalam satu ronde, sementara dia seorang vegetarian, tidak makan daging. “Justru dengan hanya makan sayur-sayuran dan buah, tubuh menjadi lebih segar dan kuat dibanding pemakan daging, ikan dan telur. Juga tergantung pikiran Anda, jangan negatif dan panik. Disiplin menjaga kebugaran dan suasana hati dengan tidur cukup dan berpikiran baik, sangat berpengaruh untuk terbang dengan baik,” menurut Primoz pada Tagor Siagian, Humas dan Koordinator Media Piala Telomoyo V 2019 lewat surat elektronik, Rabu (11/9).

Mengingat jenis lomba Gantolle di tingkat dunia adalah Lintas Alam Terbatas (Race To Goal) dan Lintas Alam Bebas/Open Distance (juara ditentukan pencapaian jarak terbang garis lurus dari titik lepas landas), maka Piala Telomoyo dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para pilot nasional, agar lebih mampu bertarung di tingkat dunia. “Tidak ada pilihan lain. Anda harus mengikuti sebanyak mungkin kejuaraan lintas alam dengan jarak sesuai kejuaraan tingkat dunia, jika mau diperhitungkan sebagaai pilot lintas alam handal. Teknik terbang Anda pasti akan cepat meningkat, jika biasa terbang sejauh yang dilakukan pilot-pilot dunia. Lebih bagus lagi kalau bisa ikut banyak kejuaraan internasional, agar tahu keunggulan dan kelemahan pilot-pilot peringkat atas dunia,” jelas Primoz, 44 tahun. Kurang handalnya pilot Gantolle dan Paralayang Indonesia di nomor Lintas Alam, karena lebih sering mengikuti kejuaraan nomor Ketepatan Mendarat (Accuracy). Kalaupun ada kejuaraan lintas alam, jarak tempuh tiap ronde hanya berkisar 15 km. Sementara di lomba internasional rata-rata berjarak 72 km tiap ronde.

Jika atlit Indonesia kebanyakan menemui hambatan dana untuk berlomba di luar negeri, Primoz cukup dengan berjualan layangan dan membuka jasa perbaikan layangan Gantolle di tempatnya bermukim, Jerman. Ayah tiga anak itu merasa sangat nyaman dan antusias berlomba di Indonesia karena keramahtamahan masyarakatnya dan adanya aneka ragam jenis sayuran dan buah. Pada Piala Telomoyo II 2015, ia rasakan langsung sambutan hangat penduduk sekitar kawasan pendaratan di Kampoeng Rawa. Bak seorang rock star, ia diajak berslamaan dan berfoto bersama.

Indonesia dengan kontur alam pegunungan yang menakjubkan dengan ribuan pulaunya, menurut Primoz, sangat memungkinkan untuk terbang lintas alam dengan jauh. Hanya butuh niat dan kegigihan mencari, mengembangkan dan merawat semua kawasan mempesona itu. Bukan tidak mungkin, suatu saat rekor dunia terbang lintas alam Gantolle bisa dibuat di Indonesia. Sebagai perbandingan, jika rekor nasional Lintas Alam Bebas Gantolle yang dicatat pilot senior Roy Sadewo (DKI Jaya) pada 1995 dari Wonogiri ke Pati (Jawa Tengah) adalah 92 km, (belum terpecahkan hingga kini), maka rekor dunia yang dibuat di Zapata, Texas, Amerika Serikat pada Juli 2012 oleh Johnny Durand (Australia) adalah sejauh 761 km, ia terbang selama 11 jam!

 

Kalender Resmi FAI

         Gunung Telomoyo dengan ketinggian 1940 m ASL (Di atas Permukaan Laut), sudah dijadikan kawasan peluncuran olahraga Gantolle sejak 1999 dan digunakan untuk kejuaraan pada 2002. Kejuaraan Nasional pertama kalinya digelar di sana pada 2004. Piala Telomoyo yang digelar sejak 2014, kerjasama Perkumpulan Gantolle DKI Jaya dengan Gantolle Jawa Tengah, sudah terdaftar sebagai kegiatan tetap pada FAI (World Air Sports Federation), induk olahraga dirgantara dunia dengan status kejuaraan Category 2. Artinya, nilai hasil pencapaian pilot dapat mempengaruhi peringkat dunianya yang diumumkan tiap awal bulan oleh FAI di www.fai.org/ranking.

Primoz memuji Telomoyo sebagai tempat sangat menantang untuk terbang. “Kelihatannya mudah ditaklukkan, tapi kalau Anda sudah terbang, tak boleh sedetikpun lengah,” ucapnya. Sedangkan pilot Australia, Grant Heaney, Juara Kelas A Piala Telomoyo I 2014, menyukai tantangan alam Telomoyo. “Di daerah asal saya, tidak ada gunung. Jadi selalu ada pengalaman baru dan seru bagi saya setiap terbang di Telomoyo,” ujarnya. Pada 2015, Grant sempat tersedot awan hujan. Khawatir terkena petir, ia segera berusaha melepaskan diri meski susah payah. Saat mendarat, wajahnya pucat. Cukup menggambarkan betapa mengerikannya pengalaman dia barusan.

Peringkat ke-43 dunia Hiroshi Suzuki, asal Jepang, sangat menikmati terbang di Indonesia. “Alamnya sangat menantang, nikmat sekali terbang di atas sawah dan mendarat juga di sawah!” serunya. Karena rajin berbagi pengalaman terbang di Indonesia lewat media sosial, rekan-rekannya sesama pilot Jepang lainnya selalu mengikuti Piala Telomoyo. Hiroshi, juara Kelas A Piala Telomoyo IV 2018 kali ini datang bersama tiga pilot putra lainnya, diantaranya Reona Takemoto, pilot didikannya. Karena faktor kesulitan yang lebih tinggi untuk terbang di Telomoyo dibanding di negaranya, Hiroshi mengharuskan muridnya terbang minimal 100 kali di Jepang sebelum ikut Piala Telomoyo. Selain mencari pengalaman terbang di berbagai kawasan di Indonesia, wisata kuliner, kesenian dan kebudayaan juga menjadi tujuan para peserta asing. Selesai Piala Telomoyo sebelumnya, para pilot Jepang pernah menjajal terbang di Bukit Batu Dua, Sumedang dan Majalengka, Jawa Barat, sementara para pilot Korea Selatan berwisata ke Jogjakarta.

 

Berkabut

Seperti cuaca pada latihan resmi Minggu (15/9), lomba Ronde I pada Senin (16/9) tertunda hingga pukul 12.54 saat pilot urutan terbang pertama Andre HK (DKI Jaya) takeoff, akibat kabut menutup lokasi lepas landas dari pagi hingga siang. Kelas A mendapat tugas sejauh 50 km, dengan titik-titik diantaranya Bukit Gajah, kawasan Salatiga, Desa Bawen dan Desa Jetis, dan mendarat di radius Desa Sraten. Sedangkan Kelas B hingga 30 km. Semua pilot berhasil mendarat dengan selamat. Namun hingga Senin malam, hasil Ronde I belum diumumkan.

Karena ramalan cuaca menyebut kabut akan datang lagi pukul 14.00 WIB, maka para pilot berusaha takeoff secepat mungkin, mengingat beberapa pilot bisa memakan waktu lebih dari perkiraan satu menit hingga loncat, akibat angin yang tiba-tiba melemah atau berubah arah. Jumlah penonton yang tidak seramai hari sebelumnya, membuat para pilot lebih mudah menyiapkan layangan dan menggeser layangannya ke landas pacu (launching ramp), berupa papan kayu sepanjang 2 meter mendatar dan 3 meter menukik tajam.

Kawasan Wisata Olahraga Dirgantara

Untuk mempercepat pergerakan para peserta Piala Telomoyo mencapai lokasi lepas landas (takeoff) di Gunung Telomoyo, sudah diperbaiki infrastruktur jalan dengan dibeton dan sebagian diaspal. Jika tahun lalu butuh 50 menit hingga ke Puncak, sekarang cukup 20 menit. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang membuka Piala Telomoyo IV tahun lalu, sangat antusias menjadikan Telomoyo sebagai kawasan wisata olahraga dirgantara (air sport tourism), Sebelumnya kawasan Gunung Mas, Puncak (Jawa Barat), Batu, Malang (Jawa Timur) dan Bukit Timbis (Nusa Dua, Bali) sudah dikenal dunia sebagai tempat baik untuk terbang tandem (dibonceng) Paralayang.

Kementerian Pariwisata mencatat, 53% wisatawan dunia adalah usia milenial, 17-25 tahun. Selain wisata kuliner dan kesenian, tujuan mereka adalah wisata olahraga petualangan/alam. Jumlah wisatawan olahraga petualangan di Indonesia, baik lokal maupun mancanegara, terus meningkat tiap tahun dengan kedatangan sekitar 1,4 juta orang. Jenis olahraga petualangan yang paling digemari adalah selancar, selam, snorkling, arung jeram, paralayang, mendaki gunung dan penelusuran gua.

Guna mendukung rencana kerja Gubernur Ganjar, Panitia Pelaksana Piala Telomoyo V 2019 akan menyelenggarakan seminar Wisata Olahraga Dirgantara di Hotel Griya Persada, Bandungan Ungaran pada Kamis (19/9). Dengan pembicara perwakilan Kementerian Pariwisata, FAI (Federasi Aeronautika Internasional), induk olahraga dirgantara dunia, Ersy Firman, penggagas Piala Telomoyo dan (Kapt.) Joy Roa, promotor festival balon udara di Filipina.

Selain peragaan terbang pesawat Paramotor (Paralayang Bermotor), kawasan pendaratan di Desa Sraten akan diramaikan juga panggung hiburan dan bazar UKM yang dikelola Kabupaten Semarang..

Text & Photos : TAGOR SIAGIAN

MORE News

COMMENTS

<