eXtremeINA.com

Tag :2018

Yogyakarta – eXtremeINA.com       Wahyu Yudha Dewanto, kembali terpilih sebagai Ketua Paralayang Indonesia untuk kedua kalinya.
Sembilan dari 13 pemilik suara dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar di Hotel Pesona, Yogyakarta, Minggu [16/12], sepakat memilihnya kembali.
Wahyu mengungguli Arif Eko dengan dalam Munas yang disaksikan ketua FASI-PGPI, Djoko Bisowarno.
IMG-20181216-WA0020
Sebelum pemilihan ketua, dilangsungkan pemilihan Board Paralayang Indonesia.
Kelima Board Paralayang Indonesia yang terpilih, Wahyu Yudha (DKI), Asgaf Umar (Sulteng), Arif Eko (Jatim), Alfari Widyasmara (DIY) dan Nyoman Sri (Jateng).
IMG-20181216-WA0022
Get Gendon, pelatih kepala Timnas Indonesia Asian Games 2018, mengungkapkan, pemilihan berlangsung secara demokratis.
“Saya kira, sudah tepat apa yang menjadi pilihan peserta. Disamping memiliki rekam jejak yang baik, juga positif terhadap prestasi paralayang Indonesia kedepan, dan Wahyu mampu bersinergi dengan daerah,” ujar Gendon.

Ditemui disela-sela pelaksanaan Munas, ketua terpilih, Wahyu Yudha berjanji akan menjalankan mandat yang diberikan anggota.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Saya bersama board terpilih, akan berupaya semaksimal mungkin membawa paralayang Indonesia menjadi lebih baik lagi,” janji Wahyu Yudha.

Text & Photos : Hery Inyo Rm

Rapat kerja & Munas telah menghasilkan Wahyu Yudha kembali terpilih untuk kedua kalinya.

READ MORE

MANADO – eXtremeINA.com   Pelaksanaan kegiatan Simulation d’ Insident en Vol (SIV) atau simulasi terjadinya insiden saat terbang paralayang, yang dihelat di Manado Skyline Tetempangan Hill, sejak pekan lalu (7/12) berlangsung sukses.
Hal ini disampaikan ketua tim kerja SIV Manado 2018, Hery Inyo Rumondor, kepada wartawan di landing area, Tongkang pantai Bulo.Menurutnya, peserta yang mengikuti kegiatan yang masuk Calendar of Event (CoE) PB FASI tahun 2018 ini, berjumlah 34 pilot paralayang, dari seluruh Indonesia.

IMG-20181213-WA0033

“Ini sebuah kebanggaan kami di Sulawesi Utara, mendapatkan kepercayaan melaksanakan kegiatan ini,” ujarnya.
Lanjut menurutnya, kegiatan ini sudah yang ketiga kali dilakukan setiap tahun, ditempat yang sama.
Jika pada 2016 dan 2017 instruktur berasal dari Perancis, tahun ini yang menjadi instruktur adalah pelatih Timnas Indonesia di Asian Games lalu, Teguh Maryanto.

IMG-20181213-WA0032

“Ini juga sebuah terobosan dan kebanggan, bahwa pelatih dalam negeri, mampu mengajarkan berbagai manuver acro dengan tidak adanya accident,” tambah Rumondor.
Sementara, ketua Paralayang Indonesia, Wahyu Yudha Dewanto, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini.
Menurutnya, apa yang dilakukan tim kerja Manado, akan dijadikan contoh dan ukuran untuk pelaksanaan kegiatan sejenis pada tahun tahun mendatang.

“Salute dan ucapan terima kasih bagi pelaksana, seluruh komunitas Paralayang dan Fasida Sulut, yang telah bahu membahu, sehingga SIV tahun 2018, berjalan sukses tanpa hambatan,” kata Wahyu.

Materi pelatihan SIV Manado 2018 sendiri melakukan berbagai manuver seperti antara lain, Spin to Exit, Spin to Back Fly,  Acymetric Colapse, Front Tag, Dinamic Stall, Full Stall dan Helico

Text & Photos : Pric Runtalolo

Ajang Simulation d’ Insident en Vol (SIV) yang dihelat di Manado Skyline Tetempangan Hill berlangsung sukses.

READ MORE
MALAYSIA – eXtremeINA.com    Putaran ke 2 Malaysian Rally Championship 2018 (MRC) yang bertajuk Rally of Perlis 2018, kembali diikuti oleh pasangan Julian Johan & Recky Resanto, yang bernaung dibawah tim One Motorsports GT Radial Evalube Helios. Kejuaraan ini digelar di negara bagian Perlis pada tanggal 20 – 21 Oktober, dan diikuti oleh 31 peserta dari 4 negara di Asia.
IMG-20181022-WA0002-01
Ada yang berbeda pada putaran ini, dimana Jeje tidak menggunakan Proton Satria Neo seperti pada putaran sebelumnya. “Kali ini strategi tim memutuskan saya untuk menggunakan Proton Satria generasi pertama, dengan bertukar mobil dengan rekan tim lainnya.” ucap Recky. Hal tersebut dilakukan atas dasar karakter mobil yang lebih sesuai dengan trek, dan Jeje ditunjuk oleh tim sebagai salah satu pengumpul poin kejuaraan tim, pada Rally of Perlis 2018 ini.
Rally of Perlis merupakan salah satu rally paling ‘High Speed’ yang ada di Malaysia. Dengan geografis perkebunan tebu dan lintasan SS yang mampu digeber hingga diatas 180km/jam.
“Ini menjadi pengalaman baru bagi saya, cukup menegangkan memacu mobil hingga Speedometer diujung, dan diatas permukaan jalan yang minim traksi” tambah Jeje mengenai trek.
IMG-20181020-WA0013-01
Rally kali ini menyuguhkan 9 SS, dengan total jarak diatas 300km. Pada Leg 1 (Sabtu), dari 3 SS yang dijalani, Jeje & Recky berhasil berada di posisi ke 2 kelas P10 (1600cc Max). Diapit oleh perally Jepang Takeshi Azuma di posisi 1, dan Masafumi Sudou di posisi 3. Masuk ke Leg 2 (Minggu), Jeje sempat mengalami ‘Overshoot’ di SS 4, sehingga mobil keluar lintasan dan tersangkut ditengah ladang. “Memang saya terlalu kencang di salah satu tikungan. Dan begitu nyangkut, saya sempat pesimis bahwa perolehan hasil podium akan lepas.”, “Tapi kami langsung mencoba memasang tali strap dibelakang mobil. Beruntunglah salah satu rekan tim kami dengan sigap menarik keluar, sehingga kami langsung kembali menyelesaikan SS4.” ungkap Jeje.
 
Pada 5 SS yang tersisa, akhirnya Jeje & Recky memustuskan untuk tetap bermain semaksimal mungkin. Walaupun waktu merosot lebih dari 15 menit, keduanya mencoba untuk memperbaiki waktu di SS 5 hingga SS 9. Di akhir kejuaraan pun, Julian Johan & Recky berhasil mengumpulkan 1 jam 58 menit 38,559 detik. Hasil tersebut tanpa disangka mampu memposisikan mereka menjadi Juara ke 3 di kelas P10. Dibawah Abdul Kaathir di posisi 1, dan Masafumi Sudou di posisi 3.
Text & Photos : JJ

Julian Johan & Recky mampu memposisikan mereka menjadi juara ketiga

READ MORE

JAKARTA-eXtremeINA.com          Pereli Tanah Air, H. Rahmat atau yang lebih akrab disapa Ame, berhasil memenangi kejuaraan reli internasional bertajuk Rally of Perlis yang digelar di kawasan Uniciti Alam Sg. Chuchuh, Padang Besar, Perlis, Malaysia pada Sabtu (20/10) dan Minggu (21/10) akhir pekan kemarin. Ame yang didampingi oleh navigatornya Donny Wardono sukses mengalahkan pesaing-pesaingnya dengan perbedaan waktu cukup jauh, seperti Roduwan Rashid dan navigatornya Moh. Faizal Tuah selaku pereli Malaysia di posisi kedua yang memiliki selisih waktu dengan Ame sejauh 1 menit  7 detik serta Karamjit Singh dan navigatornya Musa Sherif selaku pereli asal India di tempat ketiga yang memiliki perbedaan waktu dengan Ame sejauh 1 menit 21 detik.

Photo 1

Ajang Rally of Perlis yang diikuti oleh sebanyak 31 peserta ini digelar sebanyak sembilan special stages (SS) yang dibagi ke dalam dua hari. Sepanjang perlombaan, para pereli menyusuri kawasan Ladang Gula MSM Chuping yang di mana lokasi tersebut menjadi ladang mata pencaharian penduduk setempat.

Ame yang bernaung di bawah tim MRU Sederhana Motorsports sempat mengalami kendala yang cukup berat di hari pertama. Meski sukses menjuarai dua SS awal, turbo mobilnya mengalami kerusakan. Ditambah lagi, tim tidak memiliki turbo cadangan untuk mengganti turbo yang rusak. Masalah ini membuat Ame dan tim di Malaysia melakukan komunikasi dengan beberapa orang di Indonesia, seperti Rifat Sungkar selaku Ketua Komisi Rally Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat dan Loqy Siregar selaku Ketua Komisi Teknik Mobil IMI Pusat. Rifat menyatakan bahwa masalah yang dialami oleh Ame ada pada karakter mobilnya yang cenderung sulit dikendalikan, padahal lintasan di Perlis membutuhkan kecepatan yang tinggi.

Seusai perlombaan, Ame bercerita, “Tim MRU Sederhana Motorsports langsung bertindak cepat. Kami berkonsultasi dengan Rifat dan Loqy. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengaturan ulang Electronic Control Unit (ECU) agar mobil bisa lebih stabil di kecepatan 70 km/jam ke atas.”

Di SS kelima dan SS keenam, Ame sempat berlomba tanpa menggunakan anti-lag system (ALS) dengan maksud untuk menjaga kondisi turbo agar bisa berfungsi maksimal di SS ketujuh, kedelapan, dan kesembilan. “Jadi bisa dibilang, di SS lima dan enam saya lebih berusaha untuk bermain aman,” cetus Ame.

Photo 3

Setelah dirasa aman oleh tim, akhirnya Ame kembali tampil dengan mengaktifkan ALS di tiga SS terakhir, yaitu SS ketujuh, kedelapan, dan kesembilan. Di tiga SS terakhir ini, bisa dikatakan Ame menampilkan permainan terbaiknya sehingga ia pun mampu menyelesaikan perlombaan dengan gelar juara umum.

“Alhamdulillah di tiga SS terakhir, masing-masing saya meraih posisi satu, satu, dan dua. Hasil ini pun cukup membawa saya meraih gelar juara umum di ajang Rally of Perlis ini. Terima kasih untuk dukungan dan bantuan tim MRU Sederhana Motorsports yang telah bekerja keras selama perlombaan berlangsung,” tutup Ame.

Kesuksesan Ame juga diikuti oleh pereli Indonesia lainnya yang juga berlaga di Rally of Perlis. Putra Rizky bersama navigatornya Rizky Fauzi—yang juga memperkuat MRU Sederhana Motorsports—berhasil meraih gelar juara pertama di kelas RC 5 dan juara pertama di kelas Novice serta Junior. Sedangkan Julian Johan bersama navigatornya Recky Resanto berhasil menempati podium ketiga di kelas P10.

Photo 2

Raihan para pereli perwakilan Indonesia ini kemudian disambut dengan sangat positif oleh Rifat. “Sungguh prestasi yang membanggakan bagi dunia reli Indonesia yang berhasil ditunjukkan oleh putra-putra bangsa. Saya mewakili IMI pun mengucapkan terima kasih untuk usaha dan kerja keras yang ditunjukkan oleh para pereli kita yang senantiasa unjuk gigi di ajang bertaraf internasional seperti reli Malaysia ini,” pungkas Rifat.

 

Text&Photos : IMI

Ame berhasil memenangi kejuaraan reli internasional bertajuk Rally of Perlis

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com           Dalam sebuah ajang balap, set-up kendaraan menjadi hal yang krusial. Set-up yang dilakukan biasanya meliputi mesin, pemilihan gear, pemakaian ban dan suspensi. Keberhasilan tim mekanik dalam menyeting dipengaruhi pula kemampuan pebalap dalam memberi feed back alias masukan teknis. Secara sederhana, proses menyetting mesin balap merupakan gambaran nyata bagaimana terjadinya kerjasama di sebuah tim balap.

Performa sebuah mesin balap akan muncul dengan optimal jika komponen-komponen di dalamnya dapat disesuaikan dalam menghadapi tantangan yang ingin ditaklukkan. Mesin yang punya kekuatan besar harus padu dengan kemampuan ban,  pemilihan gear, juga pilihan suspensi yang tepat. Dan semua itu mengarah kepada kondisi lintasan juga riding style seorang pebalap.

Menurut Ali Adriansyah Rusmiputro, pebalap Indonesia yang berlaga di ajang World Supersport 300 (WSSP300), set-up yang tepat dapat menjadi modal awal untuk meraih hasil bagus.

Photo 1

Pada balap motor yang ia ikuti itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyeting sepeda motor. Dan settingan sepeda motor tergantung pada karakter sirkuit yang akan menjadi ajang balapan. Hanya saja, menurut pebalap Pertamina Enduro Racing Team itu, di WSSP300 area perubahan yang boleh dilakukan sangat terbatas. Akhirnya, yang lebih banyak dilakukan  adalah pengaturan gear, bukan mesin.

“Set-up sepeda motor akan berbeda tergantung sirkuit yang dihadapi. Ada sirkuit yang flat, ada yang naik turun, atau ada juga yang banyak tikungan,” ” ucapnya. “Dari pengalaman saya di WSSP300, settingan mesin tidak banyak berubah, yang banyak berubah adalah pemilihan gear, itupun hanya pada sproket,” paparnya lagi.

Menurut Ali Adriansyah, pemilihan dan pengaturan sproket tergantung pada karakter sirkuit dan gaya balap seorang rider. Pengaturan pada sirkuit yang berkarakter naik-turun akan berbeda dengan sirkuit yang flat atau sirkuit yang banyak tikungannya.

“Terkadang kita harus mengorbankan performa di trek lurus agar lebih enak di tikungan, kadang kita harus mengorbankan dua tikungan supaya lebih bagus di tikungan lainnya,” ujar Ali Adriansyah.

Kompromi semacam itu merupakan hal yang biasa dilakukan, karena tidak mungkin melakukan setting agar sepeda motor dapat sempurna di setiap bagian sirkuit.

Pebalap kelahiran bulan September itu memberi contoh bahwa Sirkuit Algarve Portimao, Portugal merupakan salah satu sirkuit yang rumit dalam menentukan settingan. Tidak hanya bagi pebalap, tapi juga bagi mekanik dalam mengatur sepeda motor mereka.

Photo 3

“Di Portugal itu sirkuitnya ada bagian yang sangat menanjak, ada juga yang sangat curam. Jadi kita harus benar-benar mampu membuat settingan yang tepat untuk mendapatkan hasil maksimal,” ucap Ali Adriansyah.

Proses melakukan setting bukan tanggung jawab tim teknis atau kru mekanik semata. Dalam proses mencari settingan yang tepat ini pebalap pun memiliki peran yang tidak kecil. Pebalap harus mampu mengumpulkan informasi tentang kondisi tunggangannya saat itu serta memberi masukan yang tepat agar performa kendaraan dapat terangkat. Dengan kata lain, tugas pebalap bukan hanya memacu tunggangan sekencang mungkin.

Demikian juga dengan Ali Adriansyah. Di sesi latihan ia harus dapat menyerap semua kondisi yang ada pada sepeda motornya saat melalui semua area sirkuit. Ia akan menginformasikan bagaimana kondisi sepeda motor misalnya saat menikung atau saat menanjak. Ia juga harus dapat memberi masukan teknis terhadap kondisi yang dihadapi. Misalnya soal kekerasan suspensi, tekanan angin pada ban, dan sebagainya. Jika pebalap tidak paham akan kondisi yang ada, maka akan sulit baginya utnuk memberi informasi yang akurat kepada mekanik. Hal itu akan membuat tim teknis kesulitan untuk melakukan set-up yang tepat.  Dan ujungnya, sepeda motor tidak mampu memberi performa yang mumpuni.

Proses set-up mesin balap memang bukan perkara sederhana. Proses ini melibatkan semua anggota tim, terutama tim teknis dan pebalap. Jadi tidak salah jika proses set-up ini merupakan bentuk nyata bagaimana sebuah kerjasama terjadi dalam tim balap.

 

Text&Photos  : KARYAKU

Keberhasilan tim mekanik dalam menyeting dipengaruhi pula kemampuan pebalap.

READ MORE

Jakarta – eXtremeINA.com      Satu bulan jelang dihelatnya Jakarta Custom Culture (JCC) 2018, Punakawan Digital Media selaku penyelenggara JCC 2018 meramu komposisi acara menarik yang akan memanjakan para pengunjung.

Berbeda dengan dua edisi sebelumnya, Project Manager JCC 2018 Andry Adrian menegaskan bahwa di tahun ini, karya kustom yang ditampilkan bukan hanya seputar modifikasi mobil dan motor saja.

“Di JCC 2018, kita berusaha mengangkat custom lifestyle dari berbagai elemen agar budaya dan para pelaku kustom di Indonesia bisa dikembangkan secara nasional maupun internasional. Selain modifikasi mobil, kita juga menampilkan fashion, hobi, dan furniture kustom. Porsinya, otomotif 60 persen dan sisanya untuk lifestyle,” ujar pria yang akrab disapa Andry ‘Black’ itu di Balai Sarwono Joglo, Kemang, Jakarta Selatan.

Mengusung tema “Drive Ride and Rock n’ Roll”, JCC 2018 kini hadir dengan jumlah partisipan yang lebih banyak karena melibatkan 190 booth yang menempati area Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Selama dua hari penyelenggaraannya, Andri juga menargetkan 15 ribu pengunjung dengan total transaksi on the spot sebesar Rp. 250 juta.

materi 2

Terbagi ke dalam lima area, JCC 2018 terbagi ke dalam lima area. Dua area dipakai untuk mobil dan motor kustom, sedangkan tiga lainnya diisi oleh area musik, F n B, dan lifestyle.

Dari dunia custom lifestyle, Indonesian Sub Culture akan mempersembahkan Tattoo War dan Tattoo Gangbang. Selain itu, ada pula Indonesian pomade enthusiast yang akan berbagi tips dan trik seputar gaya rambut dan bisnis barbershop.

Bagi pengunjung yang memperhatikan penampilan, JCC 2018 menghadirkan G-Shock Warrior Indonesia dan 3Foil.ID, komunitas pecinta jam tangan Casio G-Shock dan adidas yang akan memamerkan koleksi mereka. Sedangkan untuk furniture, JCC 2018 punya Custom Craft yang mengangkat hasil karya pengrajin lokal.

Di kategori hobi, JCC 2018 akan menggelar die cast custom contest dan sepeda kustom dari Siku-Siku Bambu yang secara perdana akan memperkenalkan sepeda kustom yang terbuat dari bambu.

Khusus untuk sepeda kustom, Ainur Rofiq selaku founder Siku-Siku Bambu bertekad menjadikan JCC 2018 sebagai ajang untuk menjaring koneksi agar hasil karyanya bisa go internasional.

“Dari 3.200 jenis bambu yang ada di dunia, salah satu yang paling bagus ada di Indonesia. Bambu punya potensi besar. Tapi yang sering kita temui bernilai rendah, selalu berakhir dengan meja atau bangku. Padahal jika diolah, bisa menjadi komoditas bernilai tinggi. Setelah saya bawa ke ITB, kualitas serat bambu hampir sama dengan serat karbon,” ungkap Rofiq

“Kita akan membawa prototipe kita di JCC 2018. Bawa 5 model. Saya juga menjadikan JCC sebagai wadah bagi saya untuk memperluas koneksi. Karena selama ini, Siku-Siku Bambu bergerak dengan dana sendiri. Melalui JCC ini, dan terbuka untuk pihak yang ingin bekerjasama dengan kami,” sambung pria berambut gondrong tersebut.

materi 3

Di sisi lain, perubahan pada JCC 2018 juga terlihat dengan adanya konten baru bernama Builder Chats yang akan mengundang para builder nasional untuk membahas perkembangan dunia modifikasi di Indonesia. Mereka juga akan berbagi cerita tentang kehidupan mereka.

Di sisi lain, visi dan misi JCC yang ingin mengembangkan dunia kustom nasional mendapatkan perhatian dari Bukalapak. Situs belanja online terkemuka itu menjadi sponsor utama JCC 2018.

“Kita senang banget Bukalapak bisa support JCC. Kita ikut menggerakkan ekonomi dari sektor industry kreatif. Nah, itulah yang membuat Bukalapak tertarik ikut dalam JCC karena mereka mendukung dunia kreatif di Indonesia. Mendorong para pelaku kustom untuk mengembangkan bisnisnya. Harapannya, JCC semakin banyak penunjungnya, dan pelapaknya juga tambah banyak,” ujar Ari K. Wibowo, Associate Vice President of Brand Bukalapak.

Sementara Saint Loco yang terpilih menjadi penampil di JCC 2018 akan menyiapkan persembahan istimewa untuk para pengunjung dengan lagu barunya.

materi 4

“Selama ini, Saint Locco mempersiapkan single baru 2018, baru selesai bikin video klip. Ada yang berubah, ada vokalis baru. Kita akan memperkenalkan vokalis baru kita di JCC sekalian peluncuran single baru dan logo baru Saint Locco,” tutup Iwan Hoediarto, gitaris Saint Loco.

JCC 2018 sendiri akan berlangsung di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 27-28 Oktober 2018 dengan harga tiket masuk senilai Rp. 30 ribu.

 

Jakarta Custom Culture 2018 Hadirkan Lebih Banyak ‘Dunia’ Kustom

READ MORE

Jakarta – eXtremeINA.com     Ajang balap World Supersport 300 (WSSP300) memasuki putaran pamungkas di musim balap 2018 ini. Rider Indonesia Ali Adriansyah Rusmiputro berharap dapat memperoleh pencapaian terbaik di Sirkuit de Nevers Magny-Cours, Prancis pada 28-30 September ini.

Sirkuit Magny-Cours merupakan salah satu sirkuit yang menjadi langganan gelaran World Superbike (WSBK). Pertama kali menjadi tuan rumah WSBK pada 1991, namun baru masuk kalender berkala sejak tahun 2003. Sirkuit ini terletak di bagian tengah negara Prancis atau sekitar 250km dari Paris.

Memiliki 17 tikungan dengan panjang total 4,412km, Magny-Cours dikenal sebagai sirkuit memiliki karakter berbeda dari kebanyakan sirkuit dalam kalender WSBK. Trek di sirkuit ini temasuk flat alias tidak ada kontur naik turun seperti Sirkuit Algarve Portimao yang baru ditaklukkan pebalap pada putaran sebelumnya. Namun, kondisi ini memberi tantangan unik bagi para rider.

Photo 2

“Sirkuit ini begitu flowing, mengalir,” ucap Ali Adriansyah.

Menurut pebalap Tim Pertamina Enduro Racing ini Magny-Cours juga membutuhkan setting sepeda motor yang tepat. “Harus teliti dalam menyeting sepeda motor,” tambah Ali Adriansyah.

Sirkuit ini terbilang sederhana tapi juga teknikal.  Artinya pebalap betul-betul harus dapat menguasai sepeda motor sesempurna mungkin. Trek lurusnya akan mendorong pebalap untuk memacu tunggangan mereka sekencang mungkin. tapi, beberapa tikungan patah harus membuat rider memperhitungkan titik pengereman yang tepat sembari menekan tuas rem sedalam mungkin.

Dengan keadaan seperti itu, rider juga harus memperhitungkan performa ban mereka dengan cermat. Ban yang dipaksa untuk melaju kencang akan membuat degradasi lebih cepat terjadi. Jika ban sudah terlalu aus, jangan harap pengendalian sepeda motor akan tetap sempurna.

Photo 1

“Biasanya roda depan akan bergetar di saat ban sudah aus,” ucap Ali Adriansyah.

Ban yang digunakan pada ajang WSSP300 hanya terdiri dua pilihan yaitu ban basah dan ban kering. Tidak seperti ban di MotoGP yang memiliki banyak ragam seperti ban soft, medium, asimetris atau hard. Dengan demikian rider WSSP300 harus mampu memaksimalkan ban yang ada sekaligus mampu meminimalisir tingkat degradasi.

Dengan tantangan seperti itu Ali Adriansyah berharap ia mendapat hasil yang baik di penutup musim balap 2018 ini.Hingga putaran ke tujuh di Portugal, Ali Adriansyah sudah mengumpulkan 6 poin dan berada di posisi 23 dari 40 pebalap.”Saya ingn sekali mendapatkan hasil yang baik untuk menutup tahun ini dengan indah dan memulai tahun depan dengan motivasi lebih,” ucapnya.

 

Text & Photos : Karyaku

 

Ali Adriansyah Berharap Hasil Terbaik di Putaran Terakhir WSSP300

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com            Pebalap motor Indonesia yang berlaga di ajang RFME CEV Supersport 300 (SSP300), Ali Adriansyah Rusmiputro mendapat pengalaman berharga di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol.Hal tersebut ia rasakan saat mengikuti putaran keempat SSP300 pada akhir pekan kemarin, Sabtu dan Minggu, 8-9 September 2018.

Balapan kali ini ia jalani setelah melakukan ujicoba di Sirkuit Algarve, Portimao, Portugal satu pekan sebelumnya. Selama di Portugal, Ali Adriansyah juga melakukan latihan fisik agar mampu menghadapi tantangan Sirkuit Valencia dengan lebih siap.Pada sesi latihan bebas di Ricardo Tormo, rider Pertamina Enduro Racing Team itu mencoba berbagai settingan yang dirasa mampu mengangkat performa Yamaha YZF-R3 yang ia tunggangi.

“Di hari pertama dan kedua kami lalui dengan sangat baik dan memperoleh banyak data. Kami mencoba banyak settingan dan memutuskan satu settingan untuk kualifikasi dan balapan,” papar Ali Adriansyah.

Photo 1

Pada kualifikasi pertama, rider bernomor 12 itu mampu mendudukkan dirinya di posisi 6 dengan jarak 0,6 detik dari pebalap terdepan. Hasilnya itu cukup memberi motivasi untuk tampil lebih baik di sesi kualifikasi kedua. Namun hujan turun ketika sesi kualifikasi lanjutan tersebut berlangsung.  Hal itu mempengaruhi handling sepeda motor yang dipegang Ali Adriansyah.

“Hujan turun saat kualifikasi kedua. Saya tidak dapat berbuat apa-apa dan harus puas berada di posisi 11,” ucap Ali Adriansyah. Dengan hasil tersebut, saat balapan pertama Ali mendapat posisi start di baris kedua.

Pada race pembuka itu Ali Adriansyah mampu melakukan start dengan bagus. Ia sempat menyodok ke posisi 2 sebelum tikungan pertama pada lap pertama. Tapi, untuk bersaing dengan pebalap lain di ajang ini, terutama dengan penunggang Kawasaki yang memiliki mesin lebih bertenaga, bukanlah perkara mudah. Beberapa kali Ali terlibat persaingan keras hingga bersenggolan dengan rider lain. Kondisi itu membuat posisinya melorot. Alhasil di akhir lomba yang berlangsung dalam 13 lap itu Ali Adriansyah finish di urutan 9. Pada klasifikasi, posisi Ali naik satu peringkat karena ada pebalap di depannya yang dihukum tambahan waktu akibat melanggar peraturan.

Pada race kedua yang berlangsung keesokan harinya, Minggu [09/09], Ali Adriansyah kembali mencoba menyerang begitu lampu start padam. Rupanya pebalap lain juga mempunyai tekad yang sama.  Dan kali ini persaingan keras sudah terjadi sejak tikungan pertama. Ali yang kembali melakukan start yang bagus langsung berada di posisi 4. Sayang, persaingan keras yang terjadi malah membuat Ali terpental dari arena. Di tikungan kedua, sebuah tikungan tajam ke kiri, ia terjatuh. Musnah sudah harapannya untuk memperbaiki posisi di balap kedua ini.

Di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia ini Ali Adriansyah mendapat pelajaran berharga untuk dibawa pada balapan selanjutnya di Sirkuit Algarve, Portimao, Portugal pada  14-16 September nanti.

Photo 2

“Saya membutuhkan latihan  lebih keras dengan sepeda motor 300cc,” ucapnya.Persaingan di SSP300 memang ketat, namun menurut Ali tidak sekompetitif di World Supersport 300 (WSSP300). Selain karena rider-rider nya lebih berpengalaman, tim-tim yang mengikuti kejuaraan ini juga tim-tim besar.

Namun demikian, yang menjadi kesulitan terbesar bagi Ali Adriansyah adalah menaklukkan pebalap dengan sepeda motor berkubikasi lebih besar, terutama Kawasaki. Sepeda motor ini turun di arena WSSP300 dengan mesin 399cc, yang secara faktual memiliki keuntungan lebih banyak dibanding Yamaha YZF-R3 bermesin 321cc. Putaran mesin Kawasaki memang dibatasi, namun tetap memberi keunggulan yang signifikan bagi penunggangnya.

Meski kurang puas akan kondisi yang tidak seimbang itu Ali Adriansyah dan timnya tidak mau berkecil hati. Ia tetap menyongsong balapan di Portimao nanti dengan motivasi penuh.

“Di Portugal harus lebih baik,” ujar Ali Adriansyah.

Text & Photos : KaryaKU

Ali Adriansyah Rusmiputro Mendapat Pengalaman Berharga di Valencia

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com         Ajang kejuaraan Merdeka Sprint Rally 2018 yang digelar di Sirkuit Paramount, Gading Serpong, Tangerang Selatan pada Sabtu [11/8] dan Minggu [12/8] esok diikuti oleh sebanyak 105 peserta dari beragam kelas yang diperlombakan. Sejatinya, Merdeka Sprint Rally 2018 yang digagas oleh Banteng Motorsport merupakan perlombaan berstatus Kejuaraan Daerah [Kejurda]. Namun dalam penyelenggaraannya kali ini, Banteng Motorsport yang juga bekerjasama dengan Ikatan Motor Indonesia [IMI] sekaligus menggelar Kejuaraan Nasional [Kejurnas] Sprint Rally 2018 putaran ketiga.

Animo pereli Tanah Air yang tinggi disambut baik oleh Ketua Komisi Sprint Rally IMI Pusat, Hervian Soejono. Ia mengatakan, “Saya sebagai Ketua Komisi Sprint Rally mendukung penuh kegiatan Merdeka Sprint Rally ini. Jumat kemarin saya sudah hadir di Paramount dan saya melakukan kalkulasi terhadap peserta yang ikut. Total ada sebanyak 105 peserta dan ini luar biasa.”

Sementara itu, Rifat Sungkar selaku Ketua Komisi Rally IMI Pusat menambahkan, Jika dilihat dari komposisinya, mobil sedan bertambah menjadi 70 persen dari yang sebelumnya hanya 50 persen. Sementara mobil jipnya 30 persen. Ini sudah sangat baik. Harapan saya ke depan terus bertambah, misalnya sedan bisa mencapai 100 peserta dan jip bisa mencapai 50 peserta. Pastinya akan menjadi perlombaan yang seru!”

Photo 1

Sementara itu, Bimo Pradikto, yang merupakan petinggi Banteng Motorsport sekaligus menjabat sebagai Ketua Harian IMI DKI menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan olahraga rally dan sprint rally dengan ikut memberikan wadah-wadah, sarana, dan pra sarana untuk para pereli Tanah Air.

“Banteng Motorsport mengucapkan terima kasih untuk atensi dari para peserta yang banyak, yang mau mengikuti kegiatan Merdeka Sprint Rally. Tak hanya cabang olahraga sprint rally, kami juga mengadakan kompetisi e-sport atau olahraga motorsport elektronik yang juga di mana merupakan program FIA. Ke depannya kami berkomitmen untuk terus memberikan ruang-ruang bagi para pereli Tanah Air, semoga kancah rally di Indonesia semakin besar lagi,” jelas Bimo.

Hal menarik lainnya di penyelenggaraan Merdeka Sprint Rally 2018 kali ini adalah keikutsertaan pebalap F2 kebanggaan indonesia, Sean Gelael, yang turun di kelas paling bergengsi, yaitu kelas M [mobil sedan dengan spesifikasi perlombaan internasional atau hampir setara dengan mobil balap yang digunakan pada ajang World Rally Championship]. Tak hanya itu, legenda reli Indonesia yang juga merupakan Ayah dari Sean, Ricardo Gelael, juga akan ikut berlomba di kelas yang sama.

Text & Photos : IMI

Merdeka Sprint Rally 2018 diikuti oleh sebanyak 105 peserta dari beragam kelas yang diperlombakan.

READ MORE

Puncak, Bogor – eXtremeINA.com            Sejarah olahraga dirgantara tercatat di Asian Games XVIII 2018 Jakarta dan Palembang. Untuk pertama kalinya olahraga udara, yang diwakili Paralayang, dilombakan. Prestasi dunia para pilot (sebutan bagi atlit olahraga dirgantara) Indonesia dan pendekatan PB FASI (Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia) ke KOI (Komite Olimpiade Indonesia), Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) serta OCA (Komite Olimpiade Asia) lewat FAI (Federasi Aeronautika Internasional), induk olahraga dirgantara dunia, berbuah manis. Terbuka lebar kesempatan tuanrumah Indonesia, menambah perolehan medali emas dari cabang olahraga yang berkembang di Indonesia pertengahan era ‘80an. Para penggiat olahraga dirgantara di Indonesia, sangat berharap diraihnya medali emas perdana di ajang Asian Games.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, berharap lebih dari 2 medali emas bisa direbut para pilot Indonesia, mengingat pencapaian di Seri PGAWC 2017. Pada Seri Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (Para Gliding Accuracy World Cup) 2017, Indonesia memborong gelar Juara Dunia semua kelas; Putri, Umum dan Beregu. Kelas Umum adalah peringkat keseluruhan pilot Putri dan Putra. Sementara dalam pengajuan anggaran persiapan Asian Games 2018 oleh PGPI (Persatuan Gantolle dan Paralayang) Bidang Paralayang sebsar Rp. 34,6 Milyar, yang akhirnya disetujui Kemenpora Januari lalu sebesar Rp. 12,3 Milyar, sasaran yang dipatok PGPI Bidang Paralayang melalui Ketuanya, Djoko Bisowarno, adalah 1 medali emas. Menurut Gendon Subandono, Pelatih Kepala Pelatnas Paralayang, perolehan 2 medali emas di nomor Ketepatan Mendarat Beregu Putri dan Putra adalah realistis. “Persiapan kita fokus ke nomor Ketepatan Mendarat,” ujarnya.

digma gotong payung_01

Indonesia sempat disegani para pilot dunia di nomor Ketepatan Mendarat/KTM Kelas Putri, setelah berturutan meraih gelar Juara Dunia Seri PGAWC pada 2010 hingga 2014, atas nama Ifa Kurniawati (2010), Milawati Sirin (2011) dan Lis Andriana (2012-2014). Berkat topografi alamnya yang sangat menantang, Indonesia menjadi surga olahraga udara dan wajib disambangi para atlit dirgantara dunia.

Daya tarik alam yang didukung kekayaan budaya, kuliner serta sejarah membuat FAI sering mempercayakan Indonesia menggelar berbagai kejuaraan olahraga dirgantara tingkat dunia. Namun yang paling mencuat di ajang multievent adalah cabor Paralayang. Sejak Pekan Olahraga Pantai Asia (Asian Beach Games) pertama di Bali 2008 dan SEA Games 2011 di Puncak, Jawa Barat, maupun ajang resmi FAI seperti; Pra Piala Dunia (PWC) Lintas Alam di Batu Dua, Sumedang, Jawa Barat 2013 dan PWC Palu 2017, Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara (WPAC/World Paragliding Accuracy Championship) 2015 di Puncak, Jawa Barat, Piala Asia Lintas Alam II 2017 di Puncak dan ajang tahunan Seri PGAWC di Puncak, Painan (Sumatera Barat), Bali, Lombok, Manado (Sulawesi Utara) dan Batu, Malang (Jawa Timur).

ike takeoff3

Digelarnya cabor Paralayang di Asian Games XVIII 2018 juga merupakan kesempatan amat baik mengenalkan wisata olahraga udara di Indonesia. Kala menyambut Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara (WPAC/World Paragliding Accuracy Championship) 2015 di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, mengingatkan, ”Tidak cukup kita menjunjung tanah dan air, jangan lupa udara. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, potensi wisata olahraga udara sangat besar. Kalau turis mancanegara mau jauh-jauh ke sini hanya untuk selancar, menyelam, snorkling, jet ski dan berlayar, kenapa tidak untuk Paralayang dan olahraga udara lainnya?!” Karenanya, Menteri Nahrawi meminta kalangan BUMN peduli dan ikut mengembangkan potensi menjanjikan itu.

 

Jumlah Peserta dan Nomor Lomba

Meski sudah 99 pilot (29 putri) dari 16 negara (11 negara mengirim pilot putri) yang resmi mendaftar ke Inasgoc, Panitia Pelaksana Asian Games Indonesia, hingga batas akhir Entry By Name (Pendaftaran Berdasarkan Nama) 30 Juni lalu, Ketua Persatuan Gantolle dan Paralayang Indonesia (PGPI), Djoko Bisowarno mengatakan, “Masih memberi waktu 3 negara mendaftar; Arab Saudi, Filipina dan India. Namun batas jumlah peserta adalah 120 pilot.”

Ke-16 negara peserta cabor Paralayang Asian Games XVIII 2018, yang sudah resmi terdaftar; Afghanistan, Cina, Cina Taipei, Hongkong, Indonesia, Iran, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Mongolia, Nepal, Pakistan, Qatar, Singapura dan Thailand.

Cabor Paralayang akan memperebutkan 6 medali emas, perak dan perunggu untuk 3 nomor lomba;

Ketepatan Mendarat/KTM Perorangan Putri dan Putra

Ketepatan Mendarat/KTM Beregu Putri dan Putra serta

Lintas Alam (XC/Cross Country) Beregu Putri dan Putra

 

Belum diputuskan Panitia Pelaksana Cabor Paralayang, apakah yang akan dilombakan nomor Lintas Alam Terbuka/Open Distance Cross Country atau Lintas Alam Terbatas (Race To Goal/RTG).

Sistim lomba adalah kompetisi penuh. Tidak ada semi-final dan final. Jumlah nilai yang diperoleh setiap pilot dari seluruh ronde penerbangan, akan menentukan peraihan medali.

Mengingat Paralayang adalah olahraga alam yang sangat bergantung kondisi cuaca dan angin, maka minimal 1 ronde/satu kali penerbangan bagi tiap pilot, sudah dinyatakan sah untuk menentukan peraihan medali baik di nomor KTM maupun XC. Paling banyak akan dilaksanakan 12 ronde untuk nomor KTM. Sedangkan di nomor XC paling banyak 5 ronde.

Panitia Pelaksana akan berikan tiap pilot Alat Pantau Langsung (Live Tracking Device/LTD). Gunanya untuk memantau kondisi penerbangan tiap peserta, menambah variasi liputan bagi media dan memudahkan pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue) apabila terjadi pendaratan darurat atau kecelakaan.

 

Takeoff  Baru

Menyambut Asian Games XVIII 2018, lokasi lepas landas di Bukit Naringgul (lebih dikenal sebagai Bukit 250, karena ketinggiannya 250 meter di atas permukaan tanah lokasi pendaratan, 1250m DPL), di Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sudah diperluas menjadi dua kali ukuran sebelumnya, ditambah lebarnya 20 meter. Menurut Walikota Bogor Nurhayanti, biaya pembangunan seluruh sarana olahraga dirgantara di kawasan Gunung Mas, termasuk perbaikan jalan menuju lokasi takeoff yang longsor, perluasan lahan parkir mobil dan lokasi pendaratan di Kampung Pensiunan, Cisarua yang diperpanjang, menghabiskan dana Rp. 2,9 Milyar. Dana tersebut diambil dari APBD Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.

Selain agar dapat menampung jumlah pilot peserta AG ’18 dengan batas paling banyak 120 pilot, pelebaran jalur takeoff akan mempercepat tahapan lepas landas. Bila sebelumnya hanya dua pilot bisa lepas landas bergantian, maka dengan takeoff baru, bisa empat pilot bergantian. Karena arah dan kecepatan angin bisa berubah dalam waktu singkat, maka pilot akan berusaha lepas landas secepat mungkin untuk melakukan penerbangan. Juga dibutuhkan tempat luas untuk membuka parasut/payung.

Baik dalam nomor Ketepatan Mendarat (KTM/Accuracy) maupun Lintas Alam (XC/Cross Country), Meet Director (Direktur Lomba) akan membatasi waktu lepas landas (open window). Misalnya dimulai setelah Pilot Briefing, penjelasan teknis lomba bagi para pilot untuk hari tersebut, dari pukul 8.30 hingga 15.00. Dalam nomor KTM, pilot hanya akan terbang sekitar 4-6 menit sejauh 1,2 km menuju titik pendaratan di perkebunan teh Kampung Pensiunan, Cisarua. Bila cuaca dan angin baik, dalam sehari pilot bisa terbang 3 ronde (sortie). Direktur Lomba berhak menghentikan lomba bila cuaca hujan atau kecepatan angin di lokasi takeoff melebihi batas wajar 25 km/jam. Guna lepas landas dengan baik dan aman, kecepatan angin minimal 5km/jam dan dari arah depan lokasi takeoff.

Bukit Pasir Sumbul (1.450 m ASL/Diatas Permukaan Laut), yang terletak di belakang Bukit 250, dijadikan lokasi lepas landas nomor Lintas Alam. Karena ketinggiannya 300 meter di atas permukaan tanah lokasi pendaratan, maka lebih cocok untuk terbang lintas alam dibanding Bukit 250.

jafro standby_01

Peta Kekuatan

Peta kekuatan cabor Paralayang di Asia tak berubah sejak 2011. Di nomor Ketepatan Mendarat, pesaing Indonesia tetap Thailand dan Korea Selatan. Pada Seri 3 PGAWC 2018, 13-15 Juli lalu di Gunung Banyak, Batu, Malang, Jawa Timur, Thailand berhasil merebut medali emas seluruh kelas; Umum, Putri dan Beregu. Pilot senior putrinya, Nunnapat “Bebie” Phuchong tetap bakal menjadi pesaing berat Rika Wijayanti, Juara Dunia Seri PGAWC 2017. Nunnapat adalah Juara Dunia bertahan Kelas Putri WPAC (Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara/World Paragliding Accuracy Championship) 2015 dan 2017. Pada WPAC 2017 di Albania, Rika mendapat perunggu. Thailand kini dilatih Andhika Munir, asal Indonesia. Adalah Munir yang mengembangkan Paralayang di Thailand jelang SEA Games 2011, agar syarat peserta minimal 4 negara tiap cabor terpenuhi.

Menurut Gendon Subandono, Pelatih Kepala Pelatnas Paralayang, pada Tagor Siagian, Humas PB FASI, khususnya tentang kinerja di nomor KTM, “Anak-anak mentalnya sudah sangat kuat, tinggal bagaimana mereka mensiasati kondisi angin jika tiba-tiba berubah jelang mendarat. Paralayang kan olahraga dinamis, tidak ada yang pasti. Jika di takeoff angin lembut dari arah depan, bisa-bisa di landing angin kencang dari samping!” Gendon yang ikut mengembangkan olahraga Paralayang di Indonesia pada pertengahan ‘80an, mengakui penyelesaian akhir berupa teknik pijakan saat mendarat para pilot perlu diperbaiki. “Agar lebih tepat di titik nol. Bisa saja menginjak pad seperti pilot lain, namun mereka lebih tepat,” jelasnya. Pad adalah bantalan elektronik bergaris tengah 17 cm, terhubung langsung ke papan nilai. Sehingga jika ingin mendapat nilai sempurna 00,00, maka harus menginjaknya tepat di tengah.

 

Peluang Di Nomor Lintas Alam

Sedangkan di nomor Lintas Alam (Terbuka), pesaing kuat Indonesia adalah Jepang, Korea Selatan dan Cina. Sebagai perbandingan, pada peringkat pilot Asia-Oceania nomor Lintas Alam Kelas Umum versi FAI per 1 Agustus 2018, Roni Pratama di peringkat 97. Sedangkan pilot Korea Selatan, Yongtae Ahn di peringkat 2 dan Yoshiaki Hirokawa (Jepang), peringkat 4. Pilot Australia menempati peringkat 1 dan 3. Australia tidak mengikuti Asian Games. Pilot Paralayang Putri dan Putra asal Asia-Oceania yang terdaftar di FAI berjumlah 1047 orang. Sedangkan di seluruh dunia yang tercatat FAI terdapat 6775 orang.

Akan menarik melihat pertarungan antara raja-raja lintas alam Asia-Oceania, Korea Selatan dan Jepang. Yoshiki Kuremoto (Jepang), peringkat 14 Asia-Oceania, tentunya ingin membalas kegagalannya meraijh juara Asia pada Piala Asia II Lintas Alam di Puncak tahun lalu yang menjadi ajang ujicoba jelang Asian Games 2018. Pilpyo Hong (Korsel/84) yang menjadi juara. Sedangkan Yoshiaki Hirokawa (Jepang), juara Pra Piala Dunia Lintas Alam 2013 di Batu Dua, Sumedang, yang menempati peringkat 4 Asia-Oceania versi FAI per 1 Agustus, tentunya ingin merebut medali emas guna melewati peringkat 2 Asia-Oceania asal Korsel, Yongtae Ahn.

Sementara di Kelas Putri, duo ratu lintas alam Asia-Oceania asal Jepang, Keiko Hiraki (peringkat 2) dan Atsuko Yamashita (5) bertekad menahan gempuran trio Korsel; Wooyoung Jang (3), Geonhye Hyoung (6) dan Jinhee Baek (7). Adapun peringkat 9, Ye Lei (Cina) dapat mencuri medali apabila para pilot Jepang dan Korsel ceroboh dan melakukan kesalahan akibat terlalu ngotot dalam bersaing. Minimnya kejuaraan lintas alam yang diikuti para pilot Indonesia berakibat peringkat mereka diluar 20 Besar; Rika Wijayanti (27), Ike Ayu Wulandari (29) dan Lis Andriana (33).

Kurang berhasilnya Indonesia di Piala Asia II Lintas Alam tahun lalu di Puncak, yang menjadi ajang ujicoba AG ‘18, antara lain disebabkan kondisi peralatan yang kurang memadai. Indonesia hanya meraih medali perunggu Kelas Putra atas nama Roni Pratama. Sedangkan ketiga medali emas Kelas Putra, Kelas Putri dan Beregu diborong para pilot Korea Selatan (Korsel). Parasut yang digunakan para pilot Indonesia tertinggal teknologinya dari para pilot Jepang dan Korsel. Jika Indonesia memakai parasut buatan 2014, maka Jepang dan Korsel memakai payung buatan terbaru tahun lalu. Hal itu sudah diantisipasi jelang AG ‘18. Kemenpora yang mendanai persiapan semua cabor yag diikuti Indonesia, sudah membelikan parasut terbaru produksi luar negeri tahun 2017. Wakil Sekjen II PB FASI (Federasi Aero Sport Indonesia), Kol. Pnb. Agung Sasongkojati sudah menerima 18 parasut akhir Mei lalu dan diserahkan ke Pelatnas pada 6 Juni. Mereknya berbeda, sesuai dengan permintaan tiap pilot. Namun kedatangan payung baru dianggap agak terlambat. “Minimal butuh enam bulan untuk penyesuaian payung Ketepatan Mendarat. Kalau payung Lintas Alam, semakin baru, semakin enak dipakai, tidak perlu penyesuaian lama,” ujar Thomas Widyananto, peraih 4 medali emas SEA Games 2011 yang tidak masuk Timnas Asian games 2018.

Mantan Juara Dunia Lintas Alam Paralayang 2007, Bruce Goldsmith saat melatih Pelatnas 1-7 Juni lalu di Puncak, mengatakan, “Mereka sudah bagus tekniknya, hanya kurang efisien terbangnya,” ujar ayah tiga anak itu. Maksud mantan juara nasional Inggris itu, dalam nomor lintas alam (XC/Cross Country), pilot tak boleh membuat banyak gerakan yang tidak perlu saat terbang. “Akibatnya parasut bisa hilang ketinggian dan terpaksa mendarat, padahal seluruh soal belum dikerjakan dan gagal mencapai garis finish. Dalam lomba lintas alam, itu jelas akan merugikan pilot,” jelasnya kepada Tagor Siagian, Humas PB FASI. “Mereka juga tidak boleh ragu-ragu kalau terbang. Saatnya harus ngebut, ya ngebut saja!” lanjutnya. Bruce menyayangkan sedikitnya lomba XC yang diikuti Pelatnas. Mereka hanya turut dalam Seri Piala Dunia XC di Bright, Australia tahun lalu. “Karena bagaimanapun, pengalaman adalah guru paling berharga. Terbiasa bertanding dengan para pilot unggulan dunia juga akan memperkuat mental pilot,” tegasnya. Bruce akan menjadi Pengawas Teknis saat Asian Games nanti.

Bagaimana peluang para pilot Merah Putih menjadi juara umum cabang Paralayang AG ’18 menurut mantan juara dunia olahraga udara Gantolle (Layang Gantung) era ‘90an itu? “Sebagai tuanrumah, mereka wajib memaksimalkan penguasaan medan. Mereka harus lebih cerdik membaca tanda-tanda alam. Atlit jangan dibebani sasaran pencapaian medali emas. Biarkan mereka menikmati terbang,” serunya. Yang dimaksud Bruce dengan membaca tanda-tanda alam adalah saat terbang, jeli melihat arah gerakan pohon, daun jatuh atau riak air sungai. “Pilot yang baik harus bisa antisipasi perubahan arah angin secepat mungkin. Karena dalam Race To Goal, sepersekian detik sangat menetukan,” tegasnya.

rika wijayanti takeoff2

Race To Goal

Dalam nomor Race To Goal (Lintas Alam Terbatas), setiap ronde para pilot akan diberikan soal berbeda. Mereka harus terbang sejauh jarak tertentu, di atas beberapa titik dalam waktu tercepat. Biasanya rutenya berbentuk segitiga, sesuai kondisi cuaca dan angin. Setiap hari, pilot hanya terbang satu ronde., mengingat waktu tempuh bisa mencapai 3 jam. Perangkat GPS (Global Positioning System) yang wajib dibawa setiap pilot, yang merekam jejak penerbangan, lalu diserahkan ke bagian kamar hitung untuk diunggah dan dibuat perhitungan nilai. Jumlah nilai tertinggi selama seluruh ronde yang menentukan juara.

Di nomor Race To Goal, Indonesia menaruh harapan besar pada pilot putra Hening “Digma” Paradigma, pemegang rekor nasional Lintas Alam sejauh 109 km yang ia buat pada 2012, dengan terbang dari Wonogiri ke Pati (Jawa Tengah).

Saat Piala Asia Lintas Alam II tahun lalu di Puncak, sebagai ujicoba AG ’18, pilot mendapat soal terbang rute Puncak-Cianjur-Lido-Sentul-Puncak yang berjarak sekitar 70 km. Jarak tempuh dalam soal berkisar 8,3 hingga 11,7 kilometer setiap ronde. Mengarah ke radius 17 km sekitar kawasan Danau Lido, Sukabumi, lalu radius 22 km di kawasan Sentul dan kembali ke kawasan perkebunan teh di Cisarua.

Parasut memadai dengan teknologi terkini, sangat mempengaruhi kemampuan pilot bermanuver untuk menambah kecepatan dan menjelajahi termal (udara panas yang bersumber dari awan). Keberhasilan mendapat termal sangat diperlukan guna mampu terbang tinggi dan sejauh mungkin demi mencapai seluruh titik dalam soal.

 

Timnas Baru Ditentukan

Meskipun batas akhir Pendaftaran Nama Atlit (Entry By Name) yang ditentukan Inasgoc adalah 30 Juni lalu, Ketua Persatuan Gantolle dan Paralayang Indonesia (PGPI), Djoko Bisowarno, mengatakan masih melihat perkembangan 18 pilot Pelatnas (8 putri dan 10 putra), sebelum menentukan tim nasional sebanyak 8 pilot (3 putri dan 5 putra). “Itu bagian dari strategi kita, agar lawan tidak mengetahui kekuatan kita,” ujarnya. Sudah bergabung sejak Januari 2017, Pelatnas Paralayang berlatih di Bukit 250 dan Bukit Pasir Sumbul, Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat. Sesekali mereka berlatih di Guung Kasur, Cipanas bila kondisi angin tidak memungkinkan terbang di Puncak.

Baru pada Sabtu (4/8) sore lalu, Pelatih Kepala Pelatnas, Gendon Subandono, menyampaikan nama-nama pilot Tim Nasional Paralayang Asian Games XVIII 2018;

Putri:

  1. Ike Ayu Wulandari (Jawa Timur, 23)
  2. Rika Wijayanti (Jawa Timur, 24)
  3. Lis Andriana (Kalimantan Timur, 35)

 

Putra:

  1. Aris Afriansyah (Banten, 24)
  2. Hening Paradigma (Jawa Tengah, 32)
  3. Roni Pratama (Jawa Timur, 22)
  4. Joni Efendi (Jawa Timur, 28)
  5. Jafro Megawanto (Jawa Timur, 22)

Alumni generasi emas timnas SEA Games 2011 yang memborong 10 dari 12 medali emas, seperti Milawati Sirin (Juara Dunia Seri PGAWC 2011), Thomas Widyananto (peraih empat medali emas saat itu), dan Juara Dunia Kelas Umum Seri PGAWC 2017, Kol. dr. Elisa Manueke tidak termasuk diantaranya. Menurut Gendon Subandono, Pelatih Kepala Pelatnas Paralayang Indonesia, perkembangan selama Pelatnas sejak Januari 2017, sangat menentukan pemilihan tim nasional. “Jadi bukan hanya berdasarkan prestasi mereka di Seri PGAWC 2017 dan 2018, Seri Piala Dunia Lintas Alam Februari lalu di Bright, Australia, Piala Asia II Lintas Alam 2017 dan Kejurnas Manado Juni lalu,” jelasnya.

Text & Photo  : Tagor Siagian

 

 

Peringkat Asia-Oceania pilot Timnas Indonesia dan calon pesaingnya, versi FAI per 1 Agustus 2018:

 

Nomor Ketepatan Mendarat:

Putri (122 pilot), 270 pilot seluruh dunia:

  1. 1.Nunnapat Phuchong (Thai)
  2. 4. Ike Ayu Wulandari (Ina)
  3. 5. Rika Wijayanti (Ina)
  4. 6. Lis Andriana (Ina)
  5. 7. Dagyeom Lee (Korsel)
  6. 9. Chantika Chaisanuk (Thai)
  7. 10. Insuk Kang (Korsel)
  8. 12. Sunita Thapa (Nepal)

 

Umum (dari 868 pilot), 2140 pilot Putri dan Putri seluruh dunia:

  1. 1. Roni Pratama (Ina)
  2. 2. Jafro Megawanto (Ina)
  3. 3. Hening Paradigma (Ina)
  4. 6. Aris Afriansyah (Ina)
  5. 13. Wang Jianwei (Cina)
  6. 14. Jirasak Witheetam (Thai)
  7. 15. Tanapat Luangiam (Thai)
  8. 16. Joni Efendi (Ina)
  9. 24. Byungchang Jeun (Kor)
  10. 26. Moonseob Lim (Kor)

 

Nomor Lintas Alam (XC/Cross Country):

Putri (dari 122 pilot), 547 pilot putri seluruh dunia:

  1. 1. Karl Ellis (Australia)
  2. 2. Keiko Hiraki (Jpg)
  3. 3. Woo Young Jang (Kor)
  4. 5. Atsuko Yamashita (Jpg)
  5. 6. Geonhye Hyoung (Kor)
  6. 7. Jinhee Baek (Kor)
  7. 8. Junghun Park (Kor)
  8. 9. Ye Lei (Cina)
  9. 10. Hyunhee Kim (Kor)
  10. 27. Rika Wijayanti (Ina)
  11. 29. Ike Ayu Wulandari (Ina)
  12. 33. Lis Andriana (Ina)

 

Umum (1041 pilot dari 6616 pilot Putri dan Putra seluruh dunia):

  1. 1. Gareth Carter (Australia)
  2. 2. Yongtae Ahn (Kor)
  3. 4. Yoshiaki Hirokawa (Jpg)
  4. 5. Jungman Choi (Kor)
  5. 9. Youngjong Park (Kor)
  6. 10. Moonseob Lim (Kor)
  7. 11. Soheil Barikani (Iran)
  8. 12. Kiyoshi Nariyama (Jpg)
  9. 14. Yoshiki Kuremoto (Jpg)
  10. 39. Yoshi Pasha (Ina)
  11. 78. Thomas Widyananto (Ina)
  12. 97. Roni Pratama (Ina)

 

Jadwal Cabor Paralayang Asian Games XVIII 2018, Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 19-30 Agustus:

Berlangsung secara kompetisi penuh. Tidak ada semi-final dan final. Jumlah nilai dari seluruh ronde/penerbangan yang diikuti tiap pilot, menentukan peraihan medali.

 

19/8                 : Latihan Resmi & Pertemuan Teknis Peserta

20-23/8           : Lomba Nomor Ketepatan Mendarat/KTM

24/8: Pk. 8-10 : Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) KTM

Latihan Resmi Lintas Alam/XC (Cross Country)

25-29/8           : Lomba Nomor XC

30/8                 : UPP XC

 

 

Menanti Emas Pertama Olahraga Dirgantara

READ MORE
<