eXtremeINA.com

Tag :Profile

eXtremeINA.com  I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang surfer kelahiran Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang surfer dan lifeguard. Ketut Agus mulai bermain surfing saat usianya masih menginjak 5 tahun, walaupun masih terlihat sangat muda namun tekad kuat untuk menjadi seorang surfer hebat sudah terlihat sejak usia dini.

I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang Surfer kelahira Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga Surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain Surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar Surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang Surfer dan Lifeguard.

Seiring berjalannya waktu Ketut Agus kian matang dan mahir untuk mengendalikan surfboard-nya. Pada usia 10 tahun adalah tahun pertama dirinya mengikuti kompetisi surfing, saat itu Ketut Agus mengikuti kejuaraan Magic Wave di kategori Junior yang terselenggara di Pantai Halfway, Bali. Di tahun pertamanya mengikuti kejuaraan tersebut Ketut Agus harus kalah pada babak kualifikasi, namun pada tahun berikutnya di kejuaraan yang sama dirinya sukses menjadi juara ketiga.

I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang Surfer kelahira Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga Surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain Surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar Surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang Surfer dan Lifeguard.

Walaupun masih tergolong muda prestasi Ketut Agus yang dihasilkannya sudah cukup mentereng, diantaranya juara kedua GromSearch National tahun 2016 untuk kategori junior U-16 ke bawah, dan juara pertama di kategori Senior dalam kejuaraan QS 1.000 yang tersaji di Sorake, Nias pada tahun 2018. Kesuksesan Ketut Agus menjadi yang terbaik di QS 1.000 menjadikan keberhasilan yang paling berkesan selama mengikuti kejuaraan surfing.

I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang Surfer kelahira Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga Surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain Surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar Surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang Surfer dan Lifeguard.

Sebagai seorang surfer profesional yang masih muda, Ketut Agus pernah mengalami hal menyakitkan karena mendapatkan cedera kaki saat berkompetisi di Contest Filipina pada tahun 2018 yang lalu. Walaupun penyembuhannya memakan waktu hingga 1 bulan lamanya, namun Ketut Agus tidak kapok dan ingin terus membuktikan bahwa dirinya adalah surfer yang berbakat dan hebat. Selain keluarga panutan surfer yang saat ini masih duduk di bangku SMA kelas 12 Kuta Pura ini adalah Mick Fanning dan John Florence. Kedua surfer top dunia tersebut seakan menjadi motivator untuk dirinya mencapai kesuksesan di dunia surfing.

I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang Surfer kelahira Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga Surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain Surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar Surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang Surfer dan Lifeguard.

Pada kesempatannya Ketut Agus berpendapat, perkembangan olahraga surfing di Indonesia cukup baik dari tahun ke tahunnya. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak para surfer muda yang sudah mulai bermain surfing. Selain itu kejuaran-kejuaraan surfing bertaraf Internasional juga kerap mampir ke Indonesia. Indonesia sendiri dikenal sebagai destinasi bermain surfing terbaik di dunia lantaran memiliki ombak pantai yang dapat dinikmati sepanjang tahun.

I Ketut Agus Aditya Putra atau yang akrab dipanggil Ketut Agus adalah seorang Surfer kelahira Denpasar 3 Agustus 2001. Kecintaan pada olahraga Surfing ini didapatnya saat melihat kakak kandungnya bermain Surfing, mulai dari situlah dirinya mulai belajar Surfing dari sang ayah I Wayan Suparta yang juga seorang Surfer dan Lifeguard.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. I Ketut Agus Aditya Putra

JAKARTA – eXtremeINA.com     Kailani Kusuma Johnson atau yang akrab dipanggil Kai atau Kailani adalah seorang surfer muda asal Bali yang sudah cukup berprestasi. Kecintaan terhadap olahraga Selancar Air [Surfing] didorong dari ayahnya Richard Johnson yang juga seorang surfer dan dirinya pun sangat suka berenang di pantai. Lahir di Bali pada tanggal 15 Maret 2002, Kailani mulai bermain surfing di ombak kecil Pantai Padma saat usianya masih menginjak 5 tahun.

Kailani Kusuma Johnson Saya Ingin Jadi Yang Terbaik di QS 6000

Berkat papan surfing pertama yang diberikan oleh ayahnya, Kailani terus berkembang dan mengasah kemampuanya dalam bermain surfing. Seiring bejalannya waktu, Kailani mulai memberanikan diri untuk mengikuti kejuaraan, dan kejuaran surfing pertama yang diikutinya adalah Kontes Magic Wave divisi Push in di Halfway, Kuta, Bali. Walaupun kalah di round 1, Kailani tidak putus asa dan terus bersemangat berlatih.

Kegigihan Kailani untuk terus berlatih surfing nampaknya kian membuahkan hasil, beberapa prestasi pun seakan menghampiri gadis cantik ini, mulai dari juara pertama yang didapatnya saat di usia 12 tahun di Mahadewi Bali dalam kejuaraan Rip Curl Gromsearch, selain itu Kailani juga sering mengikuti banyak kejuaraan Grom event dan ASC dengan meraih juara ke 2 dan ketiga  dalam beberapa kejuaraan.

Kailani Kusuma Johnson Saya Ingin Jadi Yang Terbaik di QS 6000

Keputusan Kailani menggeluti dunia surfing didukung oleh ayahnya yang juga seorang surfer, dan walaupun ibunya juga mendukung namun Kailani harus mengerti tentang prioritas apa yang harus didahulukan. Bisa dikatakan Kailani adalah salah satu surfer yang cukup beruntung, karena sering bermain dan berkompetisi surfing dirinya tidak pernah mengalami cedera sedikit pun. Oleh karena itulah Kailani harus tetap berhati-hati saat sedang menjalani aktivitasnya bermain surfing.

Walaupun disibukan dengan berbagai macam aktivtas surfing mulai dari latihan dan berkompetisi, saat in Kailani sedang mendalami dunia acting dan modeling. Namun dirinya juga mengucap ingin sekali mencoba olahraga ekstrem skydiving dan cliff jumping. Dalam menggeluti dunia surfing Kailani mengatakan dirinya tidak mengidolakan siapa pun, namun dirinya selalu menganalisa dari setiap kemampuan para surfer hebat untuk dipelajarinya.

Kailani Kusuma Johnson Saya Ingin Jadi Yang Terbaik di QS 6000

Sebagai salah satu surfer muda yang potensial akan berbagai prestasi, Kailani bercita-cita ingin menjadi yang terbaik dalam kejuaraan QS 6000. Target tersebut dapat diraihnya asal dirinya mampu tampil konsisten dalam meraih juara di setiap kejuaraan. Menurutnya, perkembangan olahraga surfing di Indonesia cukup berkembang pesat karena sudah banyak sekali anak-anak muda yang mulai bermain surfing, Indonesia juga dikenal sebagai destinasi terbaik di dunia untuk bermain surfing, namun sangat disayangkan olahraga surfing tidak sepopular di negara-negara berkembang lainnya. Mungkin hal ini kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah, oleh sebab itu Kailani berharap Pemerintah Indonesia perlu lebih intens mendukung perkembangan olahraga surfing dengan pengendalian dan pengarahan terpadu di tiap daerah-daerah, serta lebih serius dalam menggali potensi olahraga surfing di Indonesia.

Bersama dengan kakak kandungnya Puanani Johnson, dalam waktu dekat Kailani akan mengikuti empat kejuaraan surfing di Australia, yang pertama pada tanggal  20-24 Februari 2019 di Pantai Boomerang, tanggal 27 Februari- 4 Maret 2019 di Avoca, Tanggal 11-17 Maret 2019 di Pantai Merewether, dan pada tanggal 18-24 Maret 2019 di Manly. Tahun lalu Kailani sempat mengikuti kejuaraan yang sama, dengan pengalaman yang ada dirinya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu meraih hasil terbaik.

Kailani Kusuma Johnson Saya Ingin Jadi Yang Terbaik di QS 6000

Kailani Kusuma Johnson atau yang akrab dipanggil Kai atau Kailani adalah seorang surfer muda asal Bali yang sudah cukup berprestasi. Kecintaan terhadap olahraga Selancar Air [Surfing] didorong dari ayahnya Richard Johnson yang juga seorang surfer dan dirinya pun sangat suka berenang di pantai.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. Kailani Kusuma Johnson

 

#waves #extremeina #extremesports #extremesportsindonesia #indonesia #championship #surf #surfer #surfing

eXtremeINA.com           Surfing dikategorikan sebagai salah satu olahraga air yang cukup ekstrem, dan di Indonesia sendiri perkembangan olahraga ini cukup pesat walaupun belum cukup populer. Namun walaupun olahraga ini cukup ekstrem, nyatanya Nada Fadhila Utami atau yang akrab dipanggil Nada cukup menikmati olahraga yang baru digelutinya ini.

Nada-Fadhila-surfer_profile-(4)

Nada Fadhila Utami adalah seorang surfer belia asal Bengkulu yang lahir pada tanggal 25 Januari 1999, dan yang memperkenalkan dirinya pada olahraga surfing ini adalah temannya dari Arizona. Saat pertama kali bermain surfing pada tahun 2015 di saat usianya masih menginjak 15 tahun, dirinya langsung jatuh cinta dan cukup membuat dirinya tertantang dengan olahraga surfing ini. Hal ini diperkuat dengan kepribadiannya yang suka sekali dengan hal baru.

Awalnya keluarga besar Nada tidak merestui dirinya bermain surfing, lantaran olahraga ini cukup berbahaya. Namun dengan pengertian yang diberikan oleh Nada lantaran kecintaan dengan olahraga surfing ini, alhasil keluarganya saat ini mendukung penuh untuk Nada bermain surfing. Bagi dirinya surfing adalah penyemangat hidup dan obat untuk dirinya dari rasa kegelisahan yang selalu menghantuinya.

Nada-Fadhila-surfer_profile-(6)

Walaupun sudah cukup lama menggeluti dunia Surfing, nyatanya Nada tidak ingin berkompetisi untuk memperebutkan title dan medali. Nada menilai kompetisi bukanlah dirinya lantaran berkompetisi dapat membutnya tertekan yang mengakibatkan dirinya gelisah, oleh karena itulah Nada hanya sangat mencintai Free Surf.

Sebagai seorang surfer, dirinya sangat mengidolakan Stephanie Gilmore Surfer asal Australia, Torren Martyn Surfer asal Australia, dan Acer Pacey. Karena kecintaanya pada olahraga ini, Nada mampu menghabiskan waktu 3 hingga 4 sehari untuk bermain surfing. Walaupun kerap mengalami kecelakaan saat bermain surfing yang mengakibatkan tubuhnya terluka ataupun lebam, dirinya mengaku tidak kapok dan ingin terus bermain Surfing.

 

Menurut dirinya perkembangan surfing di Indonesia cukup pesat, semua kalangan sudah mulai belajar bermain surfing. Walaupun tidak ingin ikut serta dalam kompetisi, nyatanya Nada memiliki cita-cita agar dapat bermain surfing diseluruh penjuru Tanah Air, saat ini Nada hanya bermain dan berlatih surfing di Bengkulu nama spotnya adalah Tapak Padri dan Pantai Panjang.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. Nada Fadhila

#waves #extremeina #extremeinadotcom #extremesports #extremesportsindonesia #profile #nadafadhila #surf #surfer #surfing

eXtremeINA.com           Surfing dikategorikan sebagai salah satu olahraga air yang cukup ekstrem, dan di Indonesia sendiri perkembangan olahraga ini cukup pesat walaupun belum cukup populer. Namun walaupun olahraga ini cukup ekstrem, nyatanya Nada Fadhila Utami atau yang akrab dipanggil Nada cukup menikmati olahraga yang baru digelutinya ini. Nada Fadhila Utami adalah seorang surfer belia asal Bengkulu […]

READ MORE

eXtremeINA.com              Ridwan Putra atau yang akrab dipanggil Iwang adalah seorang atlet Aggressive Inline Skate kelahiran Bogor 11 Mei 1994. Awalnya Iwang sempat bermain Skateboard, namun dengan seiring berjalannya waktu dia ingin mencari hobi lain yang benar-benar buatnya nyaman akhirnya dia memutuskan untuk mencoba bermain Aggressive Inline Skate. Berawal mencoba bermain Aggressive Inline Skate tersebut, dirinya mengaku langsung jatuh cinta terhadap olahraga ekstrem yang satu ini.

eXINA-Ridwan-Putra_profile (2)

Sejatinya untuk bermain Aggressive Inline Skate, Iwang tidak direstui oleh sang Ibunda lantaran sering melihat Iwang terluka saat usai bermain olahraga ini. Namun justru Iwang mendapat dukungan dari sang Ayah, agar dirinya aman dan terhindar dari cedera parah Iwang dibelikan body protector. Tahun 2013 adalah Kompetisi Aggressive Inline Skate pertama yang Iwang ikuti di Puink Skate park Ancol, Jakarta. Turun di kelas Beginner Iwang gagal meraih gelar juara pertamanya. Namun walaupun tidak membuahkan hasil pada kompetisi pertamanya Iwang merasa sangat senang dan puas bisa mengiktui kompetisi Aggressive Inline Skate yang resmi.

eXINA-Ridwan-Putra_profile (1)

Kehebatan Iwang bermain Aggressive Inline Skate juga berkat dukungan dan latihan bersama komunitas Bogor Rolling. Bagi dirinya, komunitas Bogor Rolling adalah tempat terbaik untuk mengasah serta berlatih skill, dan di tempat inilah Iwang menjadi salah satu bladder terbaik Indonesia. Sebagai seorang Pro Bladder, Iwang sempat mengalami cedera ligament yang cukup parah saat beratraksi dalam sebuah acara peresmian salah satu skate park di Bogor.

eXINA-Ridwan-Putra_profile (3)

Akibat cedera yang dialaminya, Iwang harus menepi selama 9 bulan lamanya. Saat mengalami cedera tersebut, Iwang hanya bisa menyaksikan rekan-rekan se-profesi beraksi di skate park. Walaupun trauma sempat menghantuinya, namun tekad yang kuat untuk kembali bermain Aggressive Inline Skate mengalahkan segalanya.

eXINA-Ridwan-Putra_profile (4)

Kiprah gelar juara dari kompetisi ke kompetisi Iwang raih, hingga saat ini Iwang adalah salah satu bladder terbaik di Indonesia dan menjadi panutan di kota Bogor. Sebagai salah satu atlet Aggressive Inline Skate yang cukup berprestasi, Ridwan juga sangat memperhatikan perkembangan olahraga ekstrem ini di Indonesia. Menurutnya perkembangan Aggressive Inline Skate di Indonesia khususnya di kota Bogor ini cukup pesat, terbukti dengan semakin banyak pemain baru yang muncul di setiap daerah di Indonesia, tentunya dengan talenta yang luar biasa.

Text & Photos : Bambang Vidiatmoko / eXtremeINA.com

eXtremeINA.com  Lahir pada tanggal 26 Juni 1994 di Garut, Jawa Barat, Farhan Hendro Fahrozi tumbuh menjadi crosser yang handal dan berprestasi. Kecintaan pada olahraga otomotif Motocross ini dimulai sejak masih duduk di kelas 5 SD, yang pada saat itu sering mengikuti kegiatan latihan ataupun balapan sang ayah Asep Hendro yang juga seorang Crosser Top di Tanah Air bahkan Asia sekalipun. Secara tidak langsung, sang Ayah lah yang menerjunkan Farhan ke dunia Motocross.

eXINA-Farhan-Hendro_profile (1)

Tahun 2007 saat usianya menginjak 10 tahun adalah kali pertama Farhan Hendro mengikuti Kejuaraan Motocross di Garut. Hebatnya lagi adalah kejuaraan ini sudah kejuaraan nasonal, turun di kelas 65cc Farhan langsung meraih peringkat kedua dalam ajang ini. Cerita uniknya adalah, saat Farhan berhasil memimpin 100 meter jelang finish motor yang dikendarainya mogok lalu motor yang ditunggangi Farhan didorong oleh tim dan berhasil menjadi peringkat kedua. Selepas kejurnas di garut ini berakhir, Farhan berhasil meraih prestasi pada kejuaraan-kejuaraan selanjutnya.

 

eXINA-Farhan-Hendro_profile-(5)

Puncaknya terjadi pada tahun 2007, yang dimana Farhan Hendro untuk pertama kalinya mengikuti Kejuaraan FIM Asia Supermoto dikelas 85cc dan langsung menyabet gelar juara. Kesuksesan tersebut diikuti dengan prestasi-prestasi lainnya seperti Juara 1 Kejurnas Motocross seri 2 tahun 2015, Juara 1 Kejurda Motocross seri 3 IMI Jabar, Juara 2 Motocross Jambore Otomotif Jabar tahun 2016, Juara 2 Motocross Challenge tahun 2016, Juara 1 ISC Supermoto round 1 tahun 2017, dan Juara 2 ISC Supermoto round 2 tahun 2017. Sebenanrya ini adalah sederetan kecil prestasi yang telah diraih oleh Farhan, karena masih banyak sekali rentetan piala yang terpajang dirumahnya.

 

eXINA-Farhan-Hendro_profile (3)

Terlepas dari kehebatan ayahnya sebagai crosser dan pebisnis, sejatinya Farhan Hendro adalah crosser yang cukup mandiri. Untuk menutupi bayang-bayang ayahnya, Farhan bercita-cita ingin menghadirkan gelar juara sebanyak mungkin, dan yang paling anyar adalah dirinya berhasil membuka toko perlengkapan untuk bermain Motocross yang diberi nama FHIGZ. Hadirnya toko FHIGZ ini membuktikan dirinya mampu lepas dari seluruh fasilitas yang diberikan oleh sang ayah, dan mampu mencari penghasilan sendiri. Ide untuk membuka toko FHIGZ ini berkat adanya pemikiran bahwa menjadi seorang atlet Motocross tidak akan lama karirnya, oleh karena itu dirinya merasa harus berkembang namun tidak jauh dari hobynya tersebut.

eXINA-Farhan-Hendro_profile (2)

Sebagai seorang crosser pro, Farhan pernah mengalami cedera cukup parah pada bagian tulang keringnya saat mengikuti Kejuaraan. Sempat pasrah dan tidak ingin melanjtkan karirinya di dunia Motocross akibat cedera yang dirasanya cukup sakit, namun nyatanya mental dia tidak menyerah untuk dapat sembuh agar bisa kembali kelintasan balap.

eXINA-Farhan-Hendro_profile (4)

Perkembangan olahraga Motocross di Indonesia tergolong berkembang secara perlahan, oleh sebab itu Farhan memberikan saran dan tips kepada para crosser muda lainnya agar tidak menyerah mengejar karir dan prestasi di dunia balap Motocross. Jika ingin menjadi crosser yang berkembang dengan baik, memiliki banyak prestasi seorang crosser harus sering-sering latihan, mulai dari latihan fisik, mental, dan skill. Selain itu crosser tidak boleh cepat puas jika mendapatkan juara, jika kalah seorang crosser harus mengevaluasi kesalahan dan memperbaikinya pada kejuaraan selanjutnya.

Text & Photos          : Bambang Vidiatmoko / eXtremeINA.com

Farhan Hendro adalah crosser muda Indonesia asal Garut, Jawa Barat, yang kini namanya mulai mendulang di ajang motocross Internasional.

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com    I Dewa Hutama Jembrana atau yang akrab dipanggil Toms Brainz adalah salah satu rider BMX yang cukup melegenda di Indonesia. Sejatinya Brainz sudah bermain BMX sejak tahun 1999, namun dirinya baru fokus pada olahraga ekstrem ini pada tahun 2005. Untuk menguasai berbagai macam trik BMX, Brainz mendapatinya hanya melihat dari video saja. Sementara untuk sepeda BMX pertama kali didapatnya berkat hadiah dari orang tuanya saat berusia 7 [tujuh] tahun, dan menurutnya ini adalah pemberian hadiah yang paling berkesan selama hidupnya.

toms-brainz_profile (5)

Saat ditanya mengapa dirinya menyukai olahraga BMX, dia menjawab pada saat saudaranya memberikan VCD BMX berjudul GT Dead Sailor, dirinya langsung tergila-gila melihat para rider top dunia memperlihatkan skill dalam video tersebut. Semangat tinggi kian dirasakan oleh Brainz, karena pada saat mulai berkarir di dunia sepeda BMX dirinya langusung mendapatkan dukungan penuh dari pihak keluarga. Seiring berjalannya waktu dan skill berman BMX sudah banyak yang dikuasainya, Brainz mulai mengikuti kejuaraan BMX untuk kali pertama di tahun 2015. Pada saat itu dia turun di kelas Bunnyhop dan langsung mendapatkan juara pertama.

toms-brainz_profile (1)

Walaupun Brainz sangat mencintai olahraga BMX, nyatanya dia sangat jarang mengikuti kejuaraan BMX. Dirinya hanya sering datang saat ada kejuaraan BMX berlangsung karena hanya ingin bertemu dengan teman-teman se-profesi. Sebagai seorang rider BMX tentunya Brainz kerap kali mendapatkan cedera saat bermain BMX, cedera terberat Brainz adalah ligament lutut kiri dan kanan, yang sekaligus harus membuat dirinya gantung sepeda atau pensiun. Setelah pensiun dedikasi Brainz untuk memajukan BMX di Indonesia dia tunjukan dengan membentuk sebuah komunitas bernama South Sumatra BMX [SSBMX]. Selain itu dia juga kerap menjadi juri dalam beberapa Kejuaraan BMX bertitle Nasional maupun International semisal kejuaraan IOXC yang kerap diadakah oleh Pemerintah melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga [KEMENPORA].

toms-brainz_profile (3)

Sebagai salah satu legenda BMX di Tanah Air, Brainz menilai perkembangan BMX di Indonesia cukup berkembang. Banyak rider BMX yang sudah bermunculan di berbagai penjuru Indonesia, namun semua itu tidak didukung oleh perkembangan skill yang dikuasai oleh para rider. Mungin salah satu faktor yang membuat skill para rider tidak berkembang adalah minimnya fasilitas skate park di Indonesia. Namun diharapkan kedepannya dapat semakin membaik dengan dibuatnya skate park di berbagai daerah.

toms-brainz_profile (2)

Jika kembali dipercaya Brainz akan kembali menjadi juri dalam kejuaraan Indonesia Open X-Sport Championship [IOXC] 2017 di Manado pada bulan Oktober nanti.

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : dok. Toms Brainz

eXtremeINA.com              Indonesia adalah satu dari sekian banyak negara dengan jumlah pecinta olahraga BMX yang cukup banyak. Dengan begitu maka tidak heran jika Indonesia memiliki banyak sekali legenda Pro BMX yang sudah memiliki banyak prestasi, salah satunya adalah Tomi Ferdian atau yang akrab dipanggil Tomie Ganjal.

tomie-ganjal_profile (1)

Tomie Ganjal pertama kali bermain BMX sejak duduk di bangku sekolah dasar [SD], dengan memulai karier sebagai rider BMX Racing atau BMX Cross. Namun seiring berjalannya waktu, saat memasuki tahun ketiga di bangku Universitas sekitar tahun 2007 dia mulai berganti aliran untuk bermain BMX Freestyle. Selama menggeluti dunia BMX terlebih BMX Freestyle, Tomie Ganjal belajar trik secara otodidak, atau hanya berbekal sebuah buku karangan rider BMX asal Bandung bernama Asep Tubagus alias Apep, selain itu Tomie Ganjal juga mempelajari trik-trik BMX melalui sebuah video.

tomie-ganjal_profile (2)

Sejatinya saat ditanya mengapa Tomie Ganjal sangat menyukai olahraga BMX, dia menjawab tidak ada jawaban yang signifikan. Namun bagi dirinya olahraga ekstrem BMX sudah mendarah daging, dan tidak dapat ditinggalkan. Sepeda BMX pertama yang Tomie gunakan untuk bermain didapat dari pinjaman seorang teman sesama kuliahnya, hingga pada suatu saat temannya meminta sepeda tersebut dikembalikan Tomie berusaha keras untuk membelinya, karena sepeda tersebut sudah sangat cocok dengan dirinya.

Selama berkarir sebagai rider BMX, sejatinya Tomie tidak mendapat dukungan dari keluarga, dengan alasan Tomie sering keluar kota untuk mengikuti sebuah kejuaraan, tidak mau bekerja karena bermain BMX, bahkan dia mengaku pernah menjual sebuah sepeda motor demi membeli sepeda BMX. Namun lambat laun keluarga pun mendukung pilihan Tomie untuk menggeluti dunia BMX, seiring dengan kesibukan Tomie yang sudah mulai bekerja.

tomie-ganjal_profile (3)

One Blood For All 3rd 2009 adalah sebuah Kejuaraan BMX pertama yang diikutinya. Walaupun kala itu dia tidak mendapatkan juara, namun dia sudah cukup gembira bisa mengikuti sebuah kejuaraan BMX secara resmi. Namun seiring waktu trik dan skill yang dimiliki Tomie terus berkembang hingga rentetat prestasi didapatkan mulai dari Juara 1 Fort De Cock BMX Cross III Bukit tinggi 2010, Juara 2 Ganjal BMX Jumping Contest Payakumbuh 2010, Juara 3 Why Do We Did It Vol. III Palembang 2011, Juara 1 Lab-B Street Revolution Vol.1 Padang 2011, dan masih banyak prestasi lainnya.

tomie-ganjal_profile (4)

Sebagai seorang atlet yang menggeluti olahraga ekstrem, Tomie sempat mengalami beberapa kali cedera mulai dari keseleo, memar akibat benturan, dan luka-luka. Saat ini Tomie memang sudah tidak terlalu aktif mengikuti berbagai macam kejuaraan BMX, namun dia selalu memperhatikan perkembangan BMX di Indonesia, dia pun menilai perkembangan BMX di Indonesia sangat pesat, banyak rider muda yang potensial untuk meraih prestasi dikemudian hari. Di Indonesia pun kerap menggelar Kejuaraan BMX bertaraf International, dan itu membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki banyak rider yang dapat diperhitungkan.

#BMX #eXtremeINA #extremesports #extremesportsindonesia #Indonesia #profile #TomieGanjal #urban

Text               : Bambang Vidiatmoko

Photo            : dok. Tomie Ganjal

JAKARTA – eXtremeINA.com    Jessy Suryanegara atau yang akrab dipanggil Jessy adalah satu dari sekian banyak penikmat Aggressive Inline Skate. Lahir pada tanggal 26 Desember 1994 di Bandung, Jessy justru mendapatkan sepatu Inline Skate pertama kali dari kakaknya yang seorang skateboarder.

Jessy-Suryanegara_profile (1)

Tahun 2009 adalah awal karir Jessy menggeluti dunia Aggressive Inline Skate yang pada saat itu dia bermain di Bugiet Skatepark. Nampaknya kecintaannya pada Aggressive Inline Skate tidaklah main-main, dan rasa penasaran untuk mempelajari berbagai macam trik dia tidak sungkan untuk bertanya kepada para senior. Namun tidak hanya itu saja, Jessy pun mempelajari berbagai macam trik Aggressive Inline Skate secara otodidak yang didapatnya saat bermain sebuah game PlayStation.

Jessy-Suryanegara_profile (4)

Kejuaraan Aggressive Inline Skate pertama yang diikutinya adalah Saparua Fest Bandung, saat itu Jessy sudah masuk dalam kelas Open dan hebatnya lagi Jessy keluar sebagai finalist. Sebagai seorang Pro Bladder Indonesia, berbagai prestasi pun telah diraihnya baik di tingkat Nasional maupun International. Untuk berkarir sebagai Pro Bladder, Jessy sangat didukung oleh keluarganya walaupun mereka tahu akan risiko cedera yang akan dialami oleh Jessy. Untuk mengembangkan karier serta berkomunikasi dengan sesama pecinta Aggressive Inline Skate, Jessy bergabung dengan Komunitas Flower City Bladder.

Jessy-Suryanegara_profile (3)

Walaupun sudah banyak prestasi yang diraih Jessy selama berkompetisi Aggressive Inline Skate, nampaknya itu semua belum membuat dirinya puas. Justru dia semakin terpacu untuk meraih gelar juara lainnya seperti di Kejuaraan International semisal FISE, KIA, LG Sport, dan terutama Winterclash Kejuaraan terbesar khusus Aggressive Inline Skate yang diadakan tiap tahun saat musim dingin tiba. Sejatinya hal itu pun terwujud, karena pada beberapa waktu lalu Jessy berlaga di Kejuaraan FISE World Series di Montepellier Prancis. Walaupun belum meraih prestasi disana, Jessy sudah bekerja keras untuk nama baik Indonesia di kancah dunia.

Jessy-Suryanegara_profile (2)

Saat menggeluti olahraga ekstrem, seorang pelaku olahraga ekstrem pasti sudah mengetahui seberapa besar risiko cedera yang akan dialaminya. Begitupun dengan Jessy yang pernah mengalami patah pergelangan tangan kanan pada tahun 2009 yang membutnya fakum hingga tahun 2012. Setelah cedera yang dialami Jessy sudah sembuh total dia pun kembali untuk menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu bladder terbaik Indonesia dengan raihan banyak prestasi. Saat berkompetisi Jessy pun kerap mengeluarkan trik-trik andalan untuk mengalahkan lawan-lawannya seperti Misty Flip, dan Ilussion Backslide to AO Topsoul 540 Out.

Jessy-Suryanegara_profile (5)

Sebagai seorang Pro Bladder Indonesia, Jessy pun memperhatikan perkembangan Aggressive Inline Skate yang dinilai cukup berkembang di tiap tahunnya, dimulai dari Slalom, Urban, dan banyak anak-anak yang mulai bermain Aggresive Inline Skate. Perkembangan Aggressive Inline Skate di Indonesia juga di dukung oleh Pemerintah, yang telah membuat berbagai macam kejuaraan olahraga ekstrem baik tingkat Nasional maupun International yang salah satunya mempertandingkan Aggressive Inline Skate seperti Indonesia Open X-Sport Championship dan TAFISA World Games. Semoga kedepannya olahraga Aggressive Inline Skate di Indonesia terus maju dan berkembang melahirkan bakat-bakat baru yang siap meraih banyak prestasi di kancah Nasional maupun International.

Berikut adalah raihan prestasi yang didapat Jessy Suryanegara :

  • 3rd Place of Roller War
  • 2nd Place of HAGE Show
  • 1st Place of Roller Heroes 2
  • 1st Place of Bandung Blading Series
  • 2nd Place of Inline Friendly Competition
  • 1st Place of Green Fest Festival
  • 2nd Place of Surabaya Extreme Challenge
  • 6th Placed of IOXC 6
  • 1st Place of Battle Box
  • 1st Place of Surabaya Extreme Challenge
  • 1st Place Skate Unit Reborn 2
  • 10th Placed of IOXC 7 / 3rd Best Trick
  • 3rd Place of Jakarta Battle Box
  • 1st Placed of IIUSF
  • 3rd Placed of Roller War
  • 3rd Placed of Surabaya Extreme Challenge
  • 7th Placed of IOXC 8
  • 1st Placed of Jakarta Battle Box
  • 1st Placed of IIUSF

 

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : courtesy of NRN

Jessy Suryanegara atau yang akrab dipanggil Jessy adalah satu dari sekian banyak penikmat Aggressive Inline Skate.

READ MORE

JAKARTA – eXtremeINA.com    Nur Oki Gunawan adalah pria kelahiran Bandung, 31 Oktober 1987. Namanya memang belum setenar dengan para atlet olahraga ekstrem lainnya. Namun baru-baru ini dia berhasil meraih suatu prestasi yang membanggakan dalam sebuah kompetisi bertajuk The World Championship Sliderking di Thailand.

Nur-Oki-Gunawan_profile

Dalam ajang ini Nur Oki adalah satu-satunya peserta Indonesia yang meraih juara di sana. Ketertarikan pada Drift Trike dimulai pada tahun 2014, saat temannya membawa Drift Trike hasil rakitan sendiri dia langsung penasaran untuk menjajal olahraga yang tergolong baru itu. Saat Nur Oki menjajal akhirnya dia mulai kepincut untuk mulai menggeluti Drift Trike.

Nur Oki Gunawan Raih Prestasi di Sliderking 2017_news (1)

Mulai dari situ Nur Oki mulai merakit Drift Trike buatannya sendiri dari sepeda dan barang-barang bekas lainnya. Sejatinya sebelum menggeluti duniaDrift Trike, Nur Oki juga gemar bermain Gravity Bike, dan kedua oahraga inilah yang saat ini sedang diminati oleh Nur Oki. Sebagai seseorang yang menyukai olahraga Drift Trike, pastinya dia memiliki motivator, dan dia adalah Alfi Aoki. Dia adalah Presiden Sliderking Asia, sebagai seorang motivator dia sangat juga seorang rider yang sangat hebat, membangun Sliderking dari awal sampai benar-benar terkena saat ini Alfi Aoki pantas dijadikan mentor yang sangat baik.

Nur Oki Gunawan Raih Prestasi di Sliderking 2017_news (2)

Dalam menggeluti dunia Drift Trike, Nur Oki sejatinya tidak menargetkan apapun, karena dia hanya menyalurkan hobi saja. Namun siapa sangka, berkat skill dan kemampuan dia mampu meraih juara ke-4 dalam Kejuaraan Sliderking di Thalinad. Ini adalah Kejuaraan pertama yang dia ikuti, dan dia mampu menunjukan bahwa Nur Oki sanggup untuk meraih prestai. Sebagai seorang rider Drift Trike, Nur Oki sering berlatih di Cukup Pangalengan, Bandung Jawa Barat. Walaupun Olahraga ini belum cukup terkenal dikalangan anak muda Indonesia, nyatanya Drift Trike sedang mengalami perkembangan secara perlahan. Buktinya di Indonesia sudah beberapa daerah yang memiliki komunitas Drift Trike ini seperti Bandung, Solo, Bogor, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya.

#asphalt #drift #drifttrike #eXtremeINA #extremesports #extremesportsindonesia #gravitybike #indonesia #profile #urban

Text                : Bambang Vidiatmoko

Photos           : courtesy of Nur Oki Gunawan

JAKARTA – eXtremeINA.com        Berawal dari kompetisi Skateboard Evan Budi Prakoso memulai karir di dunia olahraga ekstrem. Bergabung dengan komunitas BMX FlatIndo, Evan memulai karir sebagai flatlander profesional di Indonesia, alhasil berbagai kejuaraan baik nasional dan internasional pernah diikutinya dengan prestasi yang membanggakan.

Evans-Buble-profile (1)

Bermain sejak 2004 atau 12 tahun silam, Evans telah mengikuti berbagai kompetisi BMX Flatland dengan prestasi yang cukup mentereng di antaranya; MENPORA Senayan Champion 2010 mendapatkan tiga kategori sekaligus yaitu: 2nd Senior Class, 1st Best Trick Class, dan 1st Best Front Trick Class. Leagues BMX Competition di Pekan Raya Jakarta [PRJ] 2016 Juara 2 Open, JakCloth BMX Competition akhir 2014 Juara 1 Open, dan Kick the Parade Expo December BMX Competition 2014 Juara 2 open serta masih banyak lagi. Prestasi di kancah Internasional yang sudah diraih seperti Youth Action Sport Games International Open South East Asia Juara 5 Open dan yang terbaru di IUSF 2015 menempati Juara 5 Open.

Evans-Buble-profile (2)

Evans juga pernah dipercayai menjadi juri pada ajang Kompetisi BMX baik Internasional maupun Nasional diantaranya: International Judge di Indonesia Open X-treme Championship Semarang 2010 dan Juri pada ajang BMX Local Heroes BMX Competition JABODETABEK Seri di Galaxy Park Bekasi. Recycler Spinning merupakan trik yang paling disukai Evans.

Evans-Buble-profile (3)

“Hampir semua kompetisi baik nasional maupun internasional sangat berkenas buat saya, dan yang paling penting itu support dan riding bareng sama teman-teman jadi bikin tambah semangat pastinya.” ujar pria yang mengidolakan Benjamin Hudson ini.

Evans-Buble-profile (4)

Menurutnya perkembangan BMX Flatland di Indonesia sangat pesat beberapa tahun belakangan ini, dari segi komunitas Indonesia cukup besar dan diakui dunia walau dengan skill yang masih berkembang, antusias para rider di tanah air juga besar sehingga banyak kompetisi BMX Flatland yang menjamur di Tanah Air.

Evans-Buble-profile (5)

Untuk para rider BMX muda di Tanah Air, Evans berpesan agar selalu mencoba trik-trik baru yang lebih kreatif, “Banyak latihan dan bila perlu cari trik baru yang belum terpikirkan orang karena Flatland itu seni.” tutupnya.

#bmx #flatland #extremeina #extremesports #extremesportsindonesia #indonesia #profile #urban

Text                : eXtremeINA.com

Photos           : dok. Evans Buble

<